Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2019
Tahun penetapan : 2019
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Masjid Raya Baiturrahman
Sifat Situs : Campuran
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Jl. Moh. Jam No.1, Kp. Baru, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh
Latitude : 5.553227964394671
Longitude : 95.32552351108409
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 34.953 M

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Pemerintah Aceh dan BPCB
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun oleh Sultan Alaudin Mahmud Syah pada tahun 1292 M. Saat itu Kontruksi Masjid dibangun dengan menggunakan kayu. Adapula riwayat lain, Masjid Raya Baiturrahman di bangun di masa Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada Tahun 1873 Belanda berusaha menduduki wilayah Aceh dengan mengirimkan tim ekspedisi di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Usaha tersebut gagal, Jenderal Kohler sendiri pun tewas dihalaman Masjid Baiturrahman. Pada Tahun yang sama belanda kembali mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Dalam Ekspedisi kedua ini Belanda berhasil menguasai wilayah Aceh. Masjid Raya Baiturrahman terbakar habis. Pada Tahun 1879 Masjid Raya Baiturrahman kembali di Bangun oleh Kolonial dengan tujuan mengambil kembali hati orang Aceh. Peletakan batu pertama oleh Tengku Malikul Adil.Pada Tahun 1935 melakukan perluasan dengan penambahan 2 kubah. Pada Tahun 1957 dilakukan perluasan kembali berdasarkan surat keputusan Menteri Agama RI tanggal 31 Oktober 1957 dengan penambahan 2 kubah dan 2 menara dibagian belakang, perluasan ini selesai tahun 1967. Mesjid Raya Baiturrahman berdenah segi empat memilki serambi berbentuk persegi panjang, Gaya Arsitektur Moorish dapat diamati pada bagian ujung tangga depan yang berbentuk huruf U pada bagian jendela terdapat empat tiang berbentuk silinder yang menghubungkan pintu gerbang mesjid dengan gaya Arsitektur Persia. Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh adalah ikon bersejarah yang melambangkan agama, budaya, dan semangat perjuangan rakyat Aceh. Masjid ini memiliki sejarah panjang yang penuh dengan peristiwa penting, termasuk pernah dibakar oleh Belanda, dibangun kembali, dan menjadi saksi bisu tragedi tsunami 2004.  Berikut adalah poin-poin penting dalam sejarah Masjid Raya Baiturrahman: Masa Kesultanan Aceh ,Abad ke-13 Beberapa riwayat menyebutkan bahwa masjid pertama dibangun pada 1292 pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmudsyah.Abad ke-17: Masjid diperluas dan didirikan kembali pada masa kejayaan Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Saat itu, masjid berfungsi sebagai pusat peribadatan sekaligus pusat pendidikan ilmu agama, politik, dan budaya. Masjid pada masa ini memiliki arsitektur khas Aceh dengan atap bertingkat yang terbuat dari jerami.  Ketika pasukan kolonial Belanda menyerang Koetaradja (nama lama Banda Aceh) pada 10 April 1873, masyarakat Aceh menjadikan masjid sebagai benteng pertahanan. Pasukan Belanda membalas perlawanan dengan membakar habis masjid. Peristiwa ini bertujuan untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat Aceh.  Setelah pembakaran, Belanda menyadari pentingnya masjid bagi rakyat Aceh. Jenderal Van Swieten berjanji akan membangun kembali masjid sebagai upaya meredakan kemarahan dan sebagai bentuk permohonan maaf. Rekonstruksi masjid dimulai pada 1879 dengan arsitek Gerrit Bruins. Pembangunan selesai pada 27 Desember 1881. Masjid yang baru ini memiliki arsitektur Indo-Saracenic atau Mughal dengan kubah besar, yang berbeda dari arsitektur sebelumnya.Awalnya, banyak rakyat Aceh menolak beribadah di masjid yang dibangun oleh penjajah, tetapi seiring waktu, masjid ini menjadi kebanggaan mereka.  Masjid ini terus mengalami perkembangan. Dua kubah tambahan dipasang pada 1936, dan dua kubah lagi ditambahkan oleh pemerintah Indonesia pada 1957. Renovasi besar-besaran dilakukan pada 2017. Halaman masjid diubah dengan lantai marmer dan dilengkapi 12 payung elektrik, mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah.  Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bermagnitudo 9,3 dan gelombang tsunami menghancurkan sebagian besar Banda Aceh. Di tengah kehancuran, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh.Bangunan masjid menjadi tempat berlindung bagi warga yang selamat dari bencana. Pondasi masjid dirancang sangat kuat untuk tahan gempa, dan strukturnya yang masif berfungsi sebagai pemecah ombak.