Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2021
Tahun penetapan : 2021
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Sabang
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Pulau Rubiah, Gampong Iboih, Kec. Sukakarya Kota Sabang
Latitude : 5.879971151301457
Longitude : 95.25983205636669
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : -
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Siti Rubiah

Merupakan makam dari istri Teungku Ibrahim di Iboih dan pengawalnya yang meninggal pada masa Islam, yaitu sebelum tahun 1800an. Makam Siti Rubiah terletak di Pulau Rubiah, Sabang, yang diambil dari nama beliau sebagai penghormatan atas jasa penyebaran agama Islam di sana. Siti Rubiah adalah istri dari ulama Tengku Ibrahim (Tengku Iboih) dan diyakini hidup pada abad ke-18 di Pulau Weh. Makamnya kini menjadi situs wisata religi yang ramai dikunjungi, terutama pada bulan-bulan suci, untuk berdoa dan berziarah.  Siti Rubiah merupakan tokoh penyebaran Islam yang dihormati, sehingga namanya diabadikan menjadi Pulau Rubiah. Beliau adalah istri dari ulama terkenal, Tengku Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Tengku Iboih. Setelah Tengku Ibrahim dan Siti Rubiah berpisah, Tengku Ibrahim tetap tinggal di Iboih, sementara Siti Rubiah menempati pulau di sebelahnya hingga akhir hayatnya bersama para santrinya.  Dikatakan Siti Rubiah berasal dari Singkil dan meninggal pada tahun 1779, hidup di masa Sultan Ala' al-Din Johan Syah dan Sultan Mahmud Syah. Siti Rubiah dan suaminya diduga merupakan bagian dari petinggi Kerajaan Aceh yang mengasingkan diri ke Pulau Weh, yang namanya diduga berasal dari kata "weh" (pergi) dalam bahasa Aceh.  Makam Siti Rubiah terletak di tepi pantai Pulau Rubiah dan mudah dijangkau. Di sampingnya, terdapat juga makam beberapa kerabatnya. Area makam ini memiliki pagar dan atap untuk kenyamanan peziarah, serta sumber mata air tawar di sampingnya yang digunakan untuk berwudu.  Pengunjung datang untuk berziarah dan berdoa, bukan untuk mencari jimat atau kekayaan. Makam ini ramai dikunjungi pada bulan-bulan suci, terutama bulan Ramadan. Makam ini berfungsi sebagai pengingat sejarah agama dan bagian dari jaringan spiritual Aulia 44 di Sabang.