Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2018
Tahun penetapan : 2018
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Jl. Emperum, Gampong Bitai Kec. Jaya Baru
Latitude : 5.537941179700868
Longitude : 95.30359673860681
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 159 mm²

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Disbudpar Aceh
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Masjid dan Makam Tengku Dibitai

Masjid ini dibangun pada masa Pemerintah Sultan Alaidin Riayatsyah Al Qahar yang memerintah (1539-1571 M). Sejarah keberadaan warga Turki di Aceh di Jaman Kerajaan Aceh sejak Abad ke 15 hingga ke 18 M. Sultan Alaiddin Al Qahar (1539-1572) adalah musuh besar Portugis di Malaka. Pada tahun 1566 M Sultan mengirim utusan kepada Sultan Sulaiman Al Qanuni di Istanbul meminta bantuan. Namun utusan harus menunggu 2 Tahun karena Sultan Sulaiman telah wafat. Sultan Selim II yang menggantikan Sultan Sulaiman mengirim bantuan kepada Sultan Alaiddin Al Qahar. Ada 300 orang utusan Turki yang datang ke Aceh untuk menbantu menyerang Malaka. Komplek Masjid dan Makam Tgk. Dibitai di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, merupakan bukti sejarah penting yang menunjukkan hubungan diplomatik yang erat antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah (Turki) pada abad ke-15 dan 16. Makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para pejuang atau jenderal perang asal Turki, termasuk Tgk. Dibitai (Salehuddin).  Berikut adalah poin-poin penting dari sejarah Komplek ini adalah Hubungan Aceh dan Turki, Hubungan ini terjalin karena kepentingan strategis dalam menghadapi musuh bersama, yaitu Portugis di Malaka. Sultan Aceh, seperti Sultan Alaiddin Al-Qahar (1539-1572 M), mengirim utusan ke Kekaisaran Utsmaniyah untuk meminta bantuan militer. Sebagai respons, Kesultanan Utsmaniyah mengirim pasukan, senjata, dan tenaga ahli yang dipimpin oleh para jenderal terbaiknya.  Tgk. Dibitai diyakini sebagai salah satu jenderal perang Turki yang dikirim ke Aceh. Namanya juga dikenal sebagai Salehuddin. Bersama pasukannya, ia membantu memperkuat militer Aceh dalam menghadapi ancaman dari luar.  Makam ini menjadi simbol penghargaan Kesultanan Aceh terhadap jasa para pejuang Turki. Situs makam menampilkan arsitektur yang unik dan menarik, dengan ukiran dan motif khas yang memadukan unsur Aceh dan Turki. Selain makam Tgk. Dibitai, di Komplek ini juga dimakamkan pasukan dan keluarga dari Turki.  Pada tahun 1566 M, Sultan Al-Qahar mengirim utusan ke Turki, yang menjadi titik awal pengiriman pasukan Turki ke Aceh. Tepat 497 tahun setelah perjuangannya, haul atau peringatan wafatnya Tgk. Dibitai diselenggarakan untuk mengenang jasa-jasanya. Pemerintah Kota Banda Aceh telah berupaya merevitalisasi dan menata ulang Komplek ini untuk menjadikannya situs cagar budaya dan wisata sejarah.  Secara keseluruhan, Komplek ini bukan hanya sekadar tempat pemakaman, tetapi juga monumen yang mengabadikan jejak sejarah persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Aceh dan Turki di masa lalu.