Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : 2019
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2019
Tahun penetapan : 2019
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : H8C7+8HV, Gampong Pande, Kec. Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Aceh
Latitude : 5.5693196139313015
Longitude : 95.32388912487167
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 50 x 50 m2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : BPCP Banda Aceh

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Raja-Raja Gampong Pande

Pada Tahun 1201 datang ke Aceh 500 Rombongan dari Seljuk yang hendak menyebarkan Islam di Aceh. Diantara rombongan Mubaligh ada yang bernama Abdurrauf As Saljuki Yang tinggal di kandang Aceh. Kelak ia dikenal sebagai tuan dikandang. Abdurrauf As Saljuki mempunyai anak yang bernama Abdul Azis yang kelak menjadi Sultan Aceh pertama yang bergelar Sultan Johan Syah. Makam Raja-Raja Gampong Pande, Banda Aceh, merupakan situs bersejarah yang menyimpan bukti peradaban penting dari masa Kesultanan Aceh, bahkan sebelumnya. Lokasinya di Kecamatan Kuta Raja pernah menjadi pusat kerajaan dan tempat penting seperti pusat penyebaran Islam serta tempat pembuatan meriam. Makam-makam di sana menunjukkan keberadaan tokoh-tokoh penting yang gelar dan tahun wafatnya dapat ditemukan pada inskripsi batu nisan, meskipun kini banyak yang tidak terawat dan rusak akibat faktor alam maupun manusia.  Kompleks makam ini berada di kawasan strategis yang berdekatan dengan Kuala Krueng Aceh, berbatasan dengan Gampong Jawa, Lampulo, dan Pelabuhan Ulee Lheue. Lokasi ini dahulu berada di bawah pengawasan langsung Kesultanan Aceh, yang menjadikannya sebagai pusat kekuasaan dan peradaban yang penting.  Melalui pembacaan prasasti pada batu nisan, para peneliti berhasil mengidentifikasi beberapa tokoh penting yang dimakamkan di kompleks ini, termasuk raja dan ulama pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi adalah Seri Raja (wafat 1441 M): Makam tokoh ini ditandai dengan sepasang nisan tipe Lamuri yang memiliki motif anyaman arabes yang khas. Raja Paduka Munawar: Tokoh bergelar raja, anak dari Sultan Mansur Syah. Sultan Mu'min Syah: Tokoh bergelar sultan, anak dari Malik Muhammad Nur ad-Din. Raja Alaidin Mukmin Syah (wafat 1576 M): Dimakamkan di kompleks ini pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Zainal Abidin (wafat 1577 M): Juga merupakan salah satu raja yang dikebumikan di area ini. Sultan Sri Alam: Makamnya juga berada di kompleks ini, meskipun tahun wafatnya tidak tercatat.  Batu nisan di Gampong Pande menunjukkan arsitektur unik dan nilai seni yang tinggi. Berdasarkan tipologi Othman, beberapa nisan menggunakan jenis Batu Aceh tipe C dan D. Gaya seni pahat, motif, dan kaligrafinya memiliki kemiripan dengan nisan makam tokoh-tokoh bersejarah lainnya, seperti makam Malik as-Shalih di Samudera Pasai dan Raja Syamsu Syah.  Kompleks makam ini telah mengalami kerusakan parah akibat gelombang tsunami pada tahun 2004. Banyak makam tua yang rusak, tertutup semak belukar, bahkan terendam air pasang. Kerusakan juga diperparah oleh kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait dan vandalisme.  Beberapa pihak, seperti Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) dan mahasiswa, telah melakukan upaya penyelamatan situs ini dengan membersihkan makam, menata kembali nisan yang berjatuhan, dan mendorong pemerintah setempat untuk melakukan pemulihan dan pelestarian yang lebih serius. Pada 2021, MPU Kota Banda Aceh juga berharap agar proyek IPAL di lokasi tersebut segera dipindahkan.  Pada tahun 2013, penduduk di Gampong Pande menemukan ratusan keping koin emas kuno peninggalan Kesultanan Aceh. Koin-koin ini bertuliskan nama Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, menunjukkan hubungan Kesultanan Aceh dengan Kekaisaran Ottoman Turki. Selain itu, ekspedisi juga menemukan pecahan guci kuno dan makam-makam yang terendam air.