Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2019
Tahun penetapan : 2019
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Jl. T. Dikandang, Gampong Pande Kec. Kuta Raja
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 65 x 45 m²

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : Pemerintah Aceh / BPCB Aceh

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Putro Ijo

Putroe Ijo menurut Hikayat Pocut Muhammad salah seorang keturunan Raja Pelanggahan yang juga merupakan bagian dari salah seorang Keturunan Sultan Aceh. Putroe Ijo cukup dikenal luas. seorang gadis jelita yang sangat Religius taat beribadah dan rajin mengikuti pengajian di istana, beliau juga menguasai beberapa Ilmu keperangan baik di laut dan di darat yang di ajarkan petinggi militer Kerajaan beliau termasuk salah satu makam yang di keramatkan ( dimuliakan) oleh penduduk setempat. omplek Makam Putroe Ijo di Gampong Pande, Banda Aceh, merupakan area pemakaman bersejarah yang kini dianggap sebagai situs cagar budaya. Meskipun secara turun-temurun diyakini sebagai makam seorang putri dari Kesultanan Aceh, sejarahnya masih diselimuti legenda karena minimnya bukti tertulis spesifik mengenai sosok "Putroe Ijo" dengan gelar tersebut di makam ini. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa penamaan "Putroe Ijo" baru populer sekitar tahun 1970-an, sedangkan nisan-nisan yang ada berasal dari abad ke-16.  Menurut Hikayat Pocut Muhammad, Putroe Ijo adalah seorang putri keturunan Raja Pelanggahan dan Sultan Aceh, yang dikenal religius serta memiliki ilmu keperangan. Namun, sumber-sumber ini tidak secara spesifik merujuk pada makam di Gampong Pande. Sebagian ahli sejarah meragukan keaslian nama "Putroe Ijo". Mereka berpendapat bahwa Komplek makam ini sudah ada sejak abad ke-16, tetapi nama "Putroe Ijo" baru muncul belakangan sekitar tahun 1970-1980. Berdasarkan peta peninggalan Belanda akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kawasan ini disebut sebagai komplek kandang raja. Komplek ini berisi banyak nisan tua dari abad ke-16, beberapa di antaranya sudah tidak utuh dan rumput-rumput hijau menyelimuti beberapa makam, termasuk milik raja-raja Kesultanan Aceh. Batu nisan yang rusak parah akibat gempa dan tsunami Aceh 2004 telah direposisi pada tahun 2013.  Komplek Makam Putroe Ijo telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Banda Aceh melalui Surat Keputusan Nomor: 643 tahun 2019.  Kawasan ini memiliki potensi untuk dijadikan destinasi wisata sejarah, mengingat peran pentingnya sebagai bagian dari sejarah Kota Banda Aceh.