Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2024
Tahun penetapan : 2024
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : JCF2+W5H, Lamnga, Kec. Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh
Latitude : 5.623624212624811
Longitude : 95.41217143869841
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : Negara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Panglima Teuku Nyak Makam

Teuku nyak Makam adalah salah seorang panglima perang Kerajaan Aceh yang dikenal gigih melawan Belanda. Teuku Nyak Makam dilahirkan di Lamnga, Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1838. lahir di desa Lamnga mukim XXVI Aceh Besar sekitar tahun 1838 M, ayahnya bernama Teuku Abbas gelar Ujong Aron bin Teuku Chik Lambaro, bin Imam Mansur, bin Imam Manyak bin Teuku Chik Mesjid, secara turun temurun pada zamannya menjadi Uleebalang dari mukim daerah Bibueh (Bebas) berstatus langsung di bawah Sultan Aceh, juga terdapat kekuasaannya suatu mukim Ie Meulee Sabang dengan 6 perkampungan yang luas. Ayahnya sendiri Abang kandungnya Teuku Ibrahim Ujong Aron, dan saudara sepupunya Teuku Chik Ibrahim suami Cut Nyak Dien. Beliau meninggal pada 21 Juli 1896.Beliau dipancung kepalanya oleh Belanda didepan rumahnya di gampong lamnga kec. Mesjid raya. Kepala beliau dibawa oleh Belanda sementara badannya dimakamkan di samping mesjid Jamiek Al -Mahabbah mukim Lamnga. Kompleks makam Panglima Teuku Nyak Makam adalah tempat peristirahatan terakhir pahlawan Aceh yang wafat pada 21 Juli 1896, di mana ia dipenggal oleh pasukan Belanda saat sedang sakit parah. Berada di Kompleks Masjid Jami Al-Mahabbah di Desa Gambiran, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, makam ini menjadi simbol perjuangan dan keberanian Teuku Nyak Makam melawan penjajah Belanda. Kepala Teuku Nyak Makam tidak pernah ditemukan, sehingga jasadnya dimakamkan tanpa kepala dan merupakan bagian dari sejarah penting Aceh.  Teuku Nyak Makam lahir di Lamnga, Aceh Besar, pada tahun 1838. Beliau dikenal sebagai panglima perang Kerajaan Aceh yang gigih melawan penjajahan Belanda, dan memiliki peran penting dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Aceh hingga pesisir Deli dan Langkat. Saat kondisi kesehatannya melemah, ia diserang dan ditangkap oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel G.F. Soeters. Ia dieksekusi dengan cara dipenggal di Kampung Gigieng, dan peristiwa tragis ini disaksikan oleh istri, anak-anaknya, serta penduduk setempat. Setelah dieksekusi, kepala Teuku Nyak Makam diarak keliling Banda Aceh untuk dijadikan tontonan oleh tentara Belanda, sementara jasadnya dikuburkan di kompleks makam yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, tanpa kepala. Hingga kini, upaya terus dilakukan untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Teuku Nyak Makam sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya, dengan pemerintah daerah Aceh Besar dan pemerintah Aceh yang mengawal proses ini. Panglima Tgk. Nyak Makam dimakamkan tanpa kepala karena kepalanya dipenggal oleh pasukan Belanda. Namun, kisah ini tidak membuat namanya hilang, melainkan menjadikannya legenda yang menginspirasi. Bagi masyarakat Aceh, ia menjadi "pahlawan tanpa kepala" yang melambangkan bahwa kehormatan dan semangat perjuangan tidak dapat dihancurkan, meskipun tubuhnya telah tiada.  Saat ini, kompleks makamnya yang berada di dalam area Masjid Jami Al Mahabbah menjadi tempat yang sering diziarahi oleh masyarakat. Kompleks ini juga tercatat sebagai salah satu objek cagar budaya di Aceh. Beberapa hal menarik tentang kompleks makam ini Adalah Berada di area yang bersejarah, yaitu dekat dengan pantai dan jalur yang penting secara strategis pada masa peperangan. Kehadiran makamnya di sana menjadi pengingat akan perjuangan panjang rakyat Aceh melawan penjajahan, serta sebagai simbol keberanian dan kehormatan.