Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2021
Tahun penetapan : 2021
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Sabang
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : V8WF+PPP, Jl. Perdagangan, Gampong Kuta Ateuh Kec. Sukakarya Kota Sabang
Latitude : 5.897858105969205
Longitude : 95.33546935487293
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 250 M2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Pemerintah Kota Sabang
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Jepang

Merupakan Komplek Pemakaman bagi tentara Jepang yang tewas akibat jatuhnya pesawat Angkatan Udara Jepang di sekitar perairan Pulau Weh ketika kembali menuju pangkalan Sabang dari patroli udara di Lautan Hindia pada tanggal 11 September 1943. Kompleks Makam Jepang di Sabang kemungkinan besar merujuk pada kompleks Benteng Anoi Itam, yang berfungsi sebagai situs pertahanan militer Jepang selama Perang Dunia II antara tahun 1942-1945. Benteng ini dibangun untuk menyimpan senjata dan amunisi serta sebagai tempat untuk mengamati dan mempertahankan wilayah dari musuh. Meskipun tidak ada makam massal tentara Jepang yang ditemukan di sana, beberapa bangunan kecil di sekitarnya digunakan sebagai pos penjagaan dan pengintaian.  Kompleks Makam Jepang di Sabang adalah tempat pemakaman bagi tentara Jepang yang gugur akibat kecelakaan pesawat pada masa Perang Dunia II.  Berikut adalah sejarah lengkap kompleks makam ini: Tentara Jepang tersebut meninggal ketika pesawat Angkatan Udara Jepang jatuh di perairan sekitar Pulau Weh pada 11 September 1943. Peristiwa ini terjadi saat pesawat sedang dalam perjalanan kembali ke pangkalan mereka di Sabang setelah melakukan patroli udara di Samudra Hindia.Meskipun Sabang dikenal dengan jejak peninggalan Jepang lainnya, seperti Benteng Anoi Itam, keberadaan kompleks pemakaman ini menjadi bukti sejarah tersendiri mengenai kehadiran dan nasib tentara Jepang di sana.Sebagai situs bersejarah, kompleks makam ini dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya di Kota Sabang.Saat ini, kompleks pemakaman Jepang dikelola oleh Pemerintah Kota Sabang. Terowongan bawah tanah yang pernah menjadi bagian dari kompleks benteng ini telah ditutup untuk alasan keamanan.  Perlu dicatat bahwa kompleks makam ini berbeda dengan jejak peninggalan Jepang lainnya di Sabang, seperti Benteng Anoi Itam yang digunakan sebagai pertahanan, atau bunker-bunker lainnya yang tersebar di beberapa titik di Pulau Weh.