Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 24 April 2026
Tahun verifikasi dan validasi : 03 February 2026
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Pengetahuan Tradisional

Detail OPK

Etnis yang Melaksanakan : Aceh
Jenis Makanan/Minuman : -
Bahan Baku : -
Cara dan Waktu Penyajian : -
Cara Pembuatan : -
Cara dan Waktu Penyajian : -

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Jaya
Kecamatan : Krueng Sabee
Desa/Gampong : -
Alamat Sentra Pembuatan/Produksi : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Ureh

1. Aspek Kesejarahan Ureh berawal dari masa Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada peristiwa ketika kaum kafir Quraisy ingin membunuh nabi ketika beliau hendak berhijrah keluar dari kota Makkah, karena Makkah terlalu banyak tekanan, penindasan, dan ancaman terhadap nabi dan pengikutnya (Suhaeri 1997), setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui nabi hendak berhijrah bersama rombongannya, mereka langsung melancarkan intimidasi terhadap kaum Muslimin. Mereka berencana untuk membunuh nabi beserta rombonganya. Lalu nabi memerintahkan anggotanya untuk segera berhijrah ke Madinah (Yastrib), dalam perjalanannya ke Madinah nabi ditemani oleh Abu Bakar dan selanjutnya disusul oleh Ali setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Dari peristiwa tersebut dapat diambil hikmah, bahwa ketika kaum kafir Quraisy hendak menghalagi nabi untuk keluar dari kota Makkah, maka nabi sudah dahulu mempunyai strategi dan Allah SWT pun membantunya, di mana kaum kafir Quraisy tidak dapat melihat nabi dikarena terhijab dengan di hamburkan abu ke tangah mereka, lalu mereka pingsan tidak sadarkan diri. Maka rencana pembunuhan tersebut gagal total, dan Nabi terus berlanjut hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan anggota lainnya. Dari peristiwa inilah asal muasal adanya ureh. Akan tetapi untuk penamaan bahwa itu adalah ureh belum bisa diungkapkan dari mana asalnya, tapi untuk pelaksanaannya yang sedemikian dari masa Nabi Muhammad SAW. Melalui proses yang begitu panjang mulai dari masa Nabi Muhammad SAW, hingga merambak ke praktek perlindungan tanaman, walaupun tidak mendapatkan mantra khusus tetapi mereka mengatakan ada pelafalan kalimat-kalimat tauhid dan puja-puji terhadap Allah SWT dan Rasulnya SAW, juga dilihat dari teks-teks yang didapat bahwasanya penulisan mantra/zimat/ doa yang kesemuanya berhuruf hijayyah Arab dan dari ayat Al-qur’an. maka dari hal tersebut bisa diprediksikan adanya pelaksanaan ureh dengan mantra / zimat /doa terhadap perlindungan tanaman ketika Islam masuk ke Nusantara, tepatnya juga masuk ke Aceh. Ureh adalah pagar mistik, sebagai alat perlindungan tanaman daripada gangguan serangan hama, ureh dipraktekkan oleh masyarakat mulai dari masa tabu bijeh (persemaian bibit), seumula pade (padi ditanamkan ke sawah), dan masa pertumbuhan biji hingga padi dapat dipanenkan. Tradisi ini masih sangat kental dilakukan oleh masyarakat setempat pada masa dahulu dengan kondisi dan situasi yang cukup mendukung terhadap pelaksanaannya, lama-kelamaan kondisi dan situasinya sudah sedikit mengalami perubahan, dengan hadirnya alat pertanian canggih dan modern, disertai dengan pola pikir masyarakat yang berkembang di mana masyarakat sekarang lebih berpikir secara logis sehingga mengurangnya suatu kepercayaan terhadap hal yang berbaur dengan kemistikan. Masa perubahan terhadap pola pikir masyarakat Desa Keude Krueng Sabee tepatnya setelah bencana Tsunami 26 Desember 2004 silam. Krueng Sabee merupakan salah satu nama Kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Jaya, wilayah ini tepat berada di wilayah pesisir pantai. Tidak lama setelah itu sekitar tahun 2010 mereka sudah bangkit kembali untuk aktivitas bertani seperti sebelumnya. Kondisi dan situasinya sudah mengalami perubahan dengan menerima bantuan alat pertanian canggih dan modern sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk melakukan aktivitasnya, juga kebanyakan pawangnya sudah meninggal dalam bencana Tsunami tersebut, sehingga berkurangnya keprihatinan terhadap nilai-nilai adat, dan budaya pada tradisi ureh dan sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan bahkan menghilang. Tujuan Adanya Tradisi Ureh Tujuan dilakukan ureh pada tanaman yaitu solusi untuk dapat menangkal hama sehingga lebih kurangnya dapat mengurangi sedikit beban pekerjaan. Ureh dikenal juga dengan nama lain yaitu takrentah, yang merupakan suatu bentuk pelaksanaan pengusiran atau disebut dengan penangkal hama penyakit yang ada pada tanaman sehingga dapat merusak tanaman tersebut. Jika begitu banyak hama yang datang merusak padi maka dapat berefek total pada mengurangnya hasil panen para petani, kerusakan pada tanaman budidaya yang disebabkan oleh penyakit sudah sangat lama dikenal dan dirasakan oleh umat manusia, berbagai upaya dilakukan, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu bahwa ditemukannya penyakit hawar dan embun, akan tetapi untuk mengendalikan berbagai macam penyakit tumbuhan tersebut, jika begitu banyak hama yang datang merusak padimaka dapat berefek total pada mengurangnya hasil panen para petani. Ada beberapa penyakit pada padi, yaitu: 1. Penyakit berdasarkan gejala serangan Ada beberapa penyakit tanaman berdasarkan pada gejala serangannya, seperti busuk akar, kangker, layu, bercak daun, kudis, hawar, antraknosa, karat, gosong, mosaik sampai menguning. 2. Penyakit berdasarkan pada organ tumbuh Seperti penyakit akar, batang, daun, dan buah. Serangan penyakit pada tanaman akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel atau jaringan, sehingga tumbuhan yang sakit menjadi lemah, bahkan dapat mengalami kematian. 3. Penyakit berdasarkan cuaca Bagi masyarakat Aceh secara umum dalam proses penanaman padi harus melihat keuneunong terlebih dahulu, gunanya ialah untuk menghindar daripada cuaca yang buruk bagi tanaman, dan melihat cuaca yang tepat bagi penanaman padi maka berlandaskan pada bintang Orion, merupakan bintang yang cukup terkenal bagi petani dan mereka memberikan dengan nama pada kumpulan gugusan bintang itu menurut tampaknya, menurut orang Jawa ialah Bajak, Weluku / Welajar, Rusa Jantan, Kidang, Guru Desa, dan Kukusan (keranjang berbentuk kerucut yang terkenal dipakai untuk nasi). Untuk orang Aceh, kumpulan bintang ini mereka namakan dengan bintang tiga “bintang lhee”. Menurut mereka: “benih padi harus disebarkan pada permulaan musim yang sudah ditentukan untuk itu Orion kelihatan paling terang, maka pada pertengahan waktu ini benih tanaman harus ditanam”. Bagi Orang yang memahami tentang Ilmu Falak yakni ilmu perbintangan sangatlah terbatas, di antaranya seperti Nyak Abbas atau lebih dikenal dengan Teuku Cik Kuta Karang yang menulis kitab obat-obatan khas Aceh “Taj Muluk”, dan pakar lainnya ialah seorang Ulama yang bernama Teungku Chik Krueng Kale. Menurut kalender orang Aceh bahwa jika menanam padi keunong Dua Ploh Lhee sama dengan 23 Jumadil Akhir berkisar antara 12 Januari, dalam keunong ini padi yang belum begitu masak, ada dalam bahaya sebab selama keunong 23 biasanya di waktu malam bertiup angin kering, angin timur padang (Timur-Tenggara), memecahkan kulit padi sehingga buahnya menjadi kosong “pade soh”. Proses Pelakasanaan Ureh Macam macam cara pelaksanaan, ada dua macam cara pelaksanaan ureh: 1. Zimat/mantra disertai dengan alat pengisyaratan, ini terkhusus pada binatang yang berjalan kaki seperti babi, tikus dan lainnya. 2. Zimat / mantra saja, ini berlaku pada binatang yang terbang seperti belalang, wereng, burung dan lainnya. Keberlangsungan pelaksanaan Dalam proses pelaksanaan maka akan berlangsung mulai dari masa: 1. Tabu bijeh (persemaian bibit), ketika bibit padi disemaikan pada lheu bijeh (lahan persemaian), maka ditangkallah bibit tersebut dengan menggunakan ureh burung supaya tidak dimakan bibit padi. 2. Semula Pade (tanam padi), ketika padi dipindahkan ke sawah dan mula tumbuh menghijau, maka ditangkallah padi tersebut dengan menggunakan ureh belerang dan tikus, supaya daun padi dan batangnya tidak diganggu. 3. Ketika padi sudah mengeluarkan biji nya dan berlangsung hingga masa padi dapat di panen, maka ureh yang digunakan ialah ureh burung, karena burung lebih suka pada biji padi yang masih hijau (isinya masih bersusu/bersantan) karena masih lemak, juga menggunakan ureh babi, tikus dan lainnya tergantung hama yang datang menghampiri padi. Doa serta alat-alat pengisyaratannya seperti kayu, bambu, tali, daun langkap dan lainnya, merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain, jika hanya menggunakan doa tanpa ada alat bantu pengisyaratan untuk dapat memagari tanaman maka itu akan sia-sia saja, tidak ada hasil apapun, begitu juga sebaliknya, kedua-duanya merupakan suatu hal yang sangat berkaitan antara satu sama lain yang harus disatukan dan tidak boleh dipisahkan agar hasilnya sempurna, hal ini berlaku hanya pada binatang yang berjalan kaki, tapi untuk binatang terbang lepas dari alat pengisyaratan, cukup dengan memakai zimat saja. Dalam penangkalan hama kitab taj muluk menjadi landasan utama rujukan masyarakat Keude Krueng Sabee, sebagaimana masyarakat Aceh biasanya, kepercayaan mereka selalu berlandaskan pada hukum syari’at seperti isi dalam kitab “Taj Muluk” banyak berpedoman pada ayat-ayat Al-quran, maupun ucapan-upacan untuk memuji Allah SWT. Zimat / mantra / doa penangkal hama Wujud dari kepercayaan masyarakat Keude Krueng Sabee terhadap kitab Taj Muluk selalu mereka praktekkan dalam penanganan hama penyakit yang datang menganggu padi sebagaimana isi daripada doa ataupun sebagai obat dalam penangkalan penyakit hama ialah: 1. Untuk mencegah daripada ulat dan tikus, disurah pada tembikar baharu maka ditepungkan tembikar itu maka di hamburkan keliling huma niscaya dipelihara akan Allah daripada tikus dan ulat, ayat Al-qur’an: حبة انبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة و اللهيضا عف لمن يشاء والله وا سع عليم( Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-Baqarah ayat 261). 2. Digantungkan di tengah perhumaan هى هى ابلاابلااله اله اله منا بنو تع تع الجليل ج ح ل م 3. Permasalahan hama kerap juga dialami oleh masyarakat desa Pasarean khususnya dari kalangan petani. Untuk dapat mencegahnya seperti hama belalang, wereng (walang sangit), ataupun tikus maka mereka memakai zimat penangkal hama yaitu berupa tulisan wifik mutsalats yaitu wifik yang ditulis dalam tiga kotak, ditulis pada kertas kemudian dipendam di tengah sawah. Selain itu dibacakan doa agar tanaman tetap tumbuh dengan baik yaitu Q.S. Al-Fatihah. Q.S Al-Ikhlas, dan Ayat Kursi masing-masing satu kali (1x) dan membaca doa: الرشد بالرشد ان الله يرزق من يشاء بغير حساب و صلى الله على سيدنا محمد وعلى اله و صحبه وسلام. (Ar-rasydu birrusydi innallaha yarzuqu man yasyau’ bighairi hisap, wa shalallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallam). 4. Adapun zimat lainnya untuk menolak hama seperti celeng, tikus, belalang atau burung agar tidak memakan atau merusak padi disawah, maka jimat yang digunakan ialah ditulis dikertas putih pada tengah malam Jum’at, kemudian digantungkan ditengah sawah serta mendongkakkan kepala ke arah langit sambil berselawat sebanyak tujuh kali (7x). Adapun bentuk tulisan zimatnya ialah: يا الله يا محمد و يسبحودام وجودلا قوة الا با لله العلي العظيم واسمس حر المعر اااا م اااا م ه ه ه ه .(Ibroh 2017) ه م و م اااا 5. Untuk menolak tikus dan hama maka tulislah pada kertas kemudian ditanam pada empat arah. Insyaallah sawah akan selamat dari gangguan tikus (Bahtiar 2009). بسم الله الرحمن الرحيم و جعلنا من بين ايديهم سدا ومن خلفهم سدا فاغشينا هم لا يبصرون Untuk Mencegah Padi Daripada Gangguan Babi 1. Ambil perca jemur dikain orang diapit dengan kayu ranting maka bubuh di tepi huma barang empat lima kayu niscaya tiada ia hampir. 2. Baca pada air disiramkan ke dalam padi itu. من يشاء بغير حساب الرشد بالرشد ان الله يرزق Artinya: (Allah Yang Maha Pemberi petunjuk maka berilah petunjukmu), sesungguhnya Engkau memberikan rizki kepada siapa yang engkau kehendaki tanpa perhitungan. 3. Disurah pada kertas dimasukkan ke dalam hinas maka dihencamkan di tengah huma: القا بض با القبو ل ص ص (Yang Maha menyempitkan maka kabulkannlah shad, shad). Diambil segenggam debu ataupun tanah lalu dibacakan (dirajah) Q. S. Al- Fil: tanpa dicaba ada kalimah terakhirnya yaitu kalimah ماء كو ل (ma’kul), lalu ditiuplah debu tersebut kedalam huma. Inilah akan peliharaan daripada segala bahaya pada rumah dan tatkala pada rimba dan perhamaan. Untuk huruf hijayyah atau kalimat-kalimat yang tidak bersangkutan dengan ayat Al-quran merupakan mantra nya dan tidak memiliki makna yang pasti. Dalam hal meuureh selain dari doa-doa yang disampaikan dalam taj muluk ada juga masyarakat yang mempraktekkan di luar doa yang tertera dalam kitab tersebut. Seperti pada ureh burung, untuk tata pelaksanaannya ialah diambil padi baik segenggam maupun seberapa jumlah padi yang ingin disemaikan lalu dibacakan doa (dirajah) kemudian dihamburkan padi tersebut ke tanah, hal yang demikian itu gunanya agar burung tidak dapat menghampiri padi, biasanya praktek ini dilakukan ketika ingin tabu bijeh. Selain daripada tanaman ureh juga digunakan pada rumah untuk menghidari dari pencurian/perampokan, juga berupa senangkai pada orang supaya tidak diganggu oleh makhluk halus seperti jin dan sejenisnya, dan lainnya. Selain dalam persawahan ureh juga digunakan pada lahan perkebunan, agar binatang-binatang buas tidak masuk ke dalam lahan, adapun untuk ureh harimau ialah berteriak sekuat mungkin supaya lentang suara terdengar jauh, sampai mana jauh nya teriakan terdengar maka sampai kesitulah batas pagarnya. Untuk ureh pada padi ada juga beberapa hal yang masyarakat gunakan: 1. Tali rapia / kawat yang diikat pada kayu mengelilingi padi tetapi tidak terlalu tinggi. 2. Bambu yang sudah dibelah sampai tipis hingga bisa melengkung lalu dipagari ke seluruh padi. 3. Daun langkap yang sudah dipisahkan dari pelepahnya laludiletakkan satu persatu disekeliling padi. 4. Kayu yang dipacangkan pada salahsatu sudut daripada petakan tanah sawah. Pantangan (seumaloe) Dalam Pelaksanaan Ureh Dalam praktek meuureh pelaku tersebut mempunyai pantangan tertentu di mana jika dilanggar akan pantangan tersebut maka hilangnya ke mujaraban terhadap mantra-mantra yang ada dan juga jika telah menjadi pawang, jika ia lupa terhadap salahsatu mantranya maka akan mendapatkan ujian sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Menurut masyarakat bahwa untuk dapat menjadikan padi supaya terlihat subur dan sehat maka sangat tergantung pada kondisi sosial masyakarat desa tersebut. Adapun pantangan yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan masyarakat bahwa: 1. Tidak dibenarkan untuk melangkahi pada sekeliling tanaman setelah di urehkan. 2. Tidak dibenarkan untuk melempar kayu tertuma pada kayu bakar ke tengah perhumaan baik pada sore hari, malam hari, maupun siang hari. 3. Tidak dibenarkan untuk menuturkan kata-kata yang kurang baik di sekeliling huma. 4. Tidak dibenarkan untuk merasa bangga ataupun sombong terhadap tanaman yang terlihat bagus lalu dipamerkan pada orang lain. 5. Tidak dibenarkan pada masyarakat melakukan pertengkaran/perkelahian terutama disekeliling huma. 6. Tidak dibenarkan masyarakat untuk melanggar ajaran Islam, misalnya pada desa tersebut banyak anak dari hasil pezinahan, maka hal tersebut akan berefek pada kesehatan dan kesuburan padi, di mana menurut masyarakat kehidupan sosial sangat mempengaruhi pada kehidupan agrikultural terutama pada tanaman padi). Manfaat Meuureh Menjadi masyarakat agraris sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Keude Krueng Sabee sejak dahulu, sehingga dalam hal pertanian ini sudah menjadi sumber mata pencaharian mereka terutama dalam bertani sawah yakni menanam padi. Dalam proses pengurusan sawah sudah cukup dipahami oleh masyarakat baik mengenai tradisi-tradisi yang bersangkutan dengan kesawahan mulai dari tradisi khanduri blang, khanduri pade, dan lain sebagainya, maupun dalam bentuk pengolah sawah dengan tujuan untuk meraih hasil panen yang sempurna. Selain daripada itu ada juga satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat tetapi tidak dalam bentuk khanduri dalam artian bahwa tradisi ini tidak dilakukan semacam khanduri-khanduri blang atau pade, tradisi ini hanya dipraktekkan oleh seseorang yang menginginkan saja demi menjaga tanamannya, tradisi itu dikenal dengan sebutan ureh atau biasanya disebut dengan meuureh menurut masyarakat, ada beberapa manfaat yang dapat diuraikan jika dalam proses bersawah dengan memakai ureh sebagaimana diterangkan di bawah ini. a) Dapat Menghemat Ekonomi, bahwa masyarakat dapat menghemat dana untuk tidak membeli racun sebagai alat untuk menangkal hama-hama yang datang pada padi. b) Dapat Mengurangi Beban, bahwa ketika memakai ureh maka petani dapat mengurangi beban dalam pekerjaannya (bersawah) yakni petani tidak harus menyemprotkan racun pada padi yang ada hamanya seperti ulat, tikus, dan jika padi sudah mulai mengeluarkan bibitnya atau sudah mulai berbijinya sedikit demi sedikit yang masih berwarna hijau maka tidak harus dijaga dari gangguan burung-burung. c) Dapat Menjaga Kesehatan di mana padi tetap alami tanpa ada bahan kimia pada padi, karena petani tidak menyomprot padi, sehingga padi terhindar dari zat-zat kimia yang berbahaya yang dapat merusak tubuh, dan tidak mudah terkena penyakit. Pelaksanaan ureh sangat membawa manfaat terhadap masyarakat setempat, selain dapat membantu masyarakat dari beban pekerjaannya juga dapat menjaga kesehatannya karena terhindar dari zat-zat kimia yang disemprotkan pada padi, bukan berarti masyarakat dahulu tidak pernah sakit, tetapi jarang dari mereka yang mengalami penyakit-penyakit seperti sekarang baik stroke, diabetas melitus, lambung, dan lain sebagainya. Adanya penyakit tersebut bukanlah efek pertama dari padi melainkan dari sumber-sumber makanan yang banyak mengandung zat-zat kimia. Respon Masyarakat Terhadap Ureh Dari hasil penelitian yang didapatkan bahwa, setelah bencana Tsunami menimpa Aceh tahun 2004 hingga sekarang tahun 2020, bahwa tradisi meuureh yang semacam dulu memagari tanaman berlandaskan mantra / zimat /doa dan mengisyaratkan pada benda ataupun non-benda sudah tidak dipraktekkan lagi bahkan hal tersebut sudah hilang terkhusus pada bercocok tanam akan tetapi jika ureh yang digunakan pada orang masih saja ada dengan memakai seunangkai, dan jikalau ureh yang digunakan pada perumahan sudah jarang dipraktekkan kecuali hanya pada rumah tabib saja. Menurut masyarakat bahwa ureh ada tiga (3) macam bentuknya yaitu (1); ureh pada tanaman, (2); ureh pada perumahan, dan (3); ureh pada orang (senangkai), tapi mayoritas dari mereka untuk istilah nama ureh saja sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat kecuali hanya orang-orang tertentu saja dan orang sekitaran umur 75-ke atas terutama pada masyarakat Desa Keude Krueng Sabee yang masih hidup, dan masih mengingat bahwasanya ureh pernah ada dan penah dipraktekkan oleh masyarakat dahulu dalam bercocok tanam. Praktek meuureh masih dilakukan oleh masyarakat pedalaman baik di kecamatan Krueng Sabee misalnya di daerah Buntha, dan Curek dan di kecamatan Setia Bakti di daerah Pante Kuyun. Bagi masyarakat Desa Krueng Sabee kegiatan bercocok tanam masih tetap mereka lanjutkan sebagaimana biasanya, karena hal itu merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat Desa Keude Krueng Sabee dari dulu hingga sekarang. Menurut mereka bahwa: “padi itu adalah segala-gala nya bagi kami, dan dari hasil padilah kami dapat memenuhi kehidupan sehari-hari, setiap selesai panen maka padi tersebut diberikan zakat jika cukup had nya, sisanya dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sebagiannya lagi akan disimpan dan dimakan”. Bercocok tanam sudah menjadi hal utama masyarakat, dan tentunya mereka selalu mempersiapkan dengan matang mulai dari masa penanaman, hingga sampai masa panen, dan selalu diiringi dengan tradisi-tradisi yang ada, kecuali ureh. Menurut hasil wawancara yang didapatkan bahwa “masyarakat sudah mempraktekkan “ureh modern”,23 yakni menangkal hama dengan menggunakan racun, dan memasang kawat kontak listrik disekitar lahan persawahan secara melingkar. Untuk pelaksanaan ureh semacam dulu, sudah tidak dipraktekkan lagi dikeranakan bahwa masyarakatnya sudah tidak ada minat terhadap hal itu karena mereka sudah banyak hal-hal modern yang mudah mereka dapatkan, di samping itu ahli dalam meuureh sudah tidak ada lagi. Gambar 1: Penangkal hama babi yang digunakan sekarang (kawat kontak listrik) Gambar 2: Penangkal hama babi yang digunakan sekarang (kawat kontak listrik). Untuk pemasangan kawat kontak listrik, terlebih dahulu masyarakat membuat kesepakatan bersama, baik mengenai arus listrik yang akan ditarik, petungan membayar token, dan juga piket yang bertugas untuk menghidupkan dan mematikan kontak. Faktor yang menyebabkan hilangnya tradisi ureh ialah: 1) Berkurangnya minat daripada masyarakat sekarang tentang pelaksanaan ureh. 2) Berkurangnya pawang-pawang ureh sehingga bagi yang masih berminat untuk melakukan praktek ureh sudah tidak bisa didapatkan lagi, hal itu dialami setelah bencana Tsunami. 3) Sudah banyak alat-alat pertanian yang dapat membantu mereka dalam bersawah, sehingga masyarakat tidak tertarik lagi dengan masalah-masalah kekunoan/ kemistikan. Menurut masyarakat Desa Keude Krueng Sabee ureh yang semacam itu dengan memakai zimat sudah tidak diyakini lagi oleh masyarakat, apakah itu masih mujarab atau tidak, dikarenakan mereka membutuhkan bukti yang nyata dalam pengusiran hama, oleh karena itu dengan memakai alat yang modern, baik nantinya hama itu hilang, ataupun mati sudah terdapat bekasnya. Hal yang demikianlah yang mudah dipercayai oleh masyarakat sekarang di Desa Keude Krueng Sabee. Oleh karena itu dengan memakai alat modern dalam penangkal hama masyarakat merasa lebih efesien dan cukup relavan serta lebih mudah untuk dijangkau dan memberikan kepastian yang maksimal.