| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 01 December 2025 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 07 January 2025 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Aceh Tenggara |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Tangis Dhilo
Tangisdiloadalah seni sastra lisan suku Alas yang dilantunkanolehseorang calon pengantin wanitadengan nada khas Alas sebagai media untukmencurahkanperasaan, isihati, meminta nasehat, dan izinkepadakedua orang tua serta sanak-saudara yang sudah berlangsung secaraturun-temurunpadasuku Alas. Tangis dilo diperkirakan sudah ada sejak tahun 1348 M, ketika masyarakat Aceh Tenggara pertama kali memeluk Islam. Senandung seni adat budaya Alas (tangis). Senandung seni adat Alas ini digunakan sebagai media adat pada prosesi adat perkawinan khusus untuk calon/pengantin wanita. Senandung seni ini dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu : a. Tangis mangekhi (pemberian tepung tawar). b. Tangis dilo (senandung dini hari sampai menjelang subuh). c. Tangis noohken/nekhah atau tukhunenne (meminta ijin pamit) Senandung (tangis), danLagam bagi kaum laki-laki seni adat Alas sejarah permulaan berawal ketika membuka lahan di hutan untuk areal pertanian dengan menebang kayu pepohonan sangat sulit terenggah-engah karena kecapean timbul kata-kata aboii,engehhh..uhhh,kata tersebut bersinomin dengan amboii (aboiii) atau lagam pada suku Alas sebagai senandung seni ajang curahkan hati (curhat) mengeskeresikan jiwa dengan bersenandung. Di jawa sama dengan nembang,di Gayo disebut mongot bagi kaum wanita. Pada hasil wawancara beberapa informan yang memiliki pengetahuan tentang sejarah adat istiadat suku Alas oleh bapak Sarifudin dari desa Kute Pedesi menjelaskan bahwa : “sejarah melagam pada saat nembak (membuka kebun),atau empus maka terjadi mekhense (bercerita),dalam mekhende itulah menceritakan tentang kisah susah derita hidup di saat waktu istirahat, keadaan ini sering dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi suatunkebiasaan yang enak di dengar. a. Tangis Mangekhi (Senandung pada acara memberikan tepung tawar ), bagi kaum wanita.Tangis/menangnis(ngungui) bersedih saat hendak berpisah mau menikah oleh suku Alas bagi kaum wanita ketika diberikan tepung tawar (tangis mangekhi), sebagai seni lajim sejak turun temurun nyaris hilang dan tidak mampu dilantunkan karena generasi saat ini mengangap kuno,tidak mengetahui makna sakral di dalamnya. Hal ini telah diungkapkan pada penelitian Hamidah, Pergeseran Nilai Adat Mepakhur Dalam Mencari Jodoh Bagi Pemuda di Kecamatan Lawe Alas Aceh Tengagara. Tangis (nangis) atau bersenandung pada acara mangekhi (tepung tawar), senandung tangis mangekhi adalah : senandung seni adat Alas yang disampaikan pada saat memberikan tepung tawar,oleh sanak saudara, kaum kerabat, masyarakat dikute (kampung dimana tempat tinggal calon pengantin wanita tersebut. Calon pengantin tersebut bersenandung seni adat tangis mangekhi (tepung tawar) saat satu persatu memberikan tepung tawar padanya. Setiap orang yang memberikan tepung tawar salami, meminta maaf terimaksih atas do’a yang telah di berikan padanya. Pada saat memerlukan atribut sebagai berikut : 1. Tempat tikar adat khusus untuk calon pengantin, jaman dahulu menggunakan amak lapik (tikar adat khusus) yang diayam untuk tempat duduk pengantin. 2. Pakhakh atau talam khusu tempat mangekhi (tempat alat tepung tawar), ada yang terbuat dari alumunium dan piring talam biasa. 3. Beras lebih kurang setengah bambu dalam piring besar, atau secukupnya, jika habis boleh menambahkan lagi. 4. Cucu tangan dan tempat limau mukur (jeruk purut) di belah 4 (empat). 5. Kaiun kapal (kain adat) untuk di pakai dan untuk selendang (babe) uwis tengging (kain adat). b. Tangis dilo (senandung dini har sampai menjelang subuh). Tangsi dilo atau disebut dengan kata senandung seni tangis dilo (menjelang) adalah : senandung tangis dilo yang dilakukan saat selesai acara mepakhur menjelang pagi atau sebelum tiba masuk subuh atau pergantian antara malan menjelang pagi. Senandung ini biasanya menggunakan pakaian baju adat mesikhat dan kain kerudung/ labung uwis tengging (kain adat)..Pada senandung tangis dilo, biasanya yang datang oleh pengantin wanita adalah ibunya, adeknya untuk meminta diajari atau meminta dinasehati bagaimana menghadapai kehidupan berumah tangga, ede (kakak ipar), biasanya memberikan nasehat, petuah agar kuat menghadapi bahtera kehidupan rumah tangga dijalankan. Pada kegiatan senandung tangis dilo memerlukan atribut,alat perlengkapan secara adat istiadat secara turun-temurun seperti dibawah ini : 1. Baju mesikhat anak perempuan (baju adat perempuan) 2. Uwis tengging untuk cabin (kain adat Alas) 3. Memakai kostum. jilbab dirias menarik 4. Memakai inai sebagai pengantin,,lengkap diukir tangan dan kaki. 5. Dayang-dayang jika perlu.. sejarah tangsi dilomerupakan seni sastra dan juga disebut katagori seni suara. Dalam ungkapan syair nada antara Lagam dengan senandung Tangis Dilo memiliki persamaan. Istilah Tangis Dilo pada dasarnya dipergunakan untuk acara kegiatan adat istiadat pada perkawinan (petemunen). Tangis atau ngungui ialah menceritakan kisah sudah ,derita spada perjalanan hidup, ada pula berisikan pesan nasehat kepada orang lain atau meminta nasehat pada orang lain melalui lantunan syair-syair indah dan merdu. Tangis (senandung) menceritakan kisah sedih hendak berpisah dengan orang tua, sanak saudara,sebagai bukti kecintaan kita pada keluarga yang akan kita tinggalkan melalui lantunan tangis yang bermakna adat bagi suku Alas di Kabupaten Aceh Tenggara. Senandung dalam arti persamaan kata dengan tembang di daerah Jawa, sedangkan merip senandung juga di Gayo disebut dengan mongot (nangis). Nangis (Mongot di Gayo dengan bahasa Gayo mirip bersebuku istilah masyarakat disana menyebutnya. tangis (nangis) merupakan seni tangis dilo adalah merupakan senandung yang di sampaikan oleh calon pengantin wanita menjelang hari terang (sebelum tiba waktu subuh) dengan senandung indah memohon izin, meminta maaf kepada sanak saudara khususnya saudarai (seninennya) , kakak ipar (edenya) teman, sahabat-sahabat wanitanya karena esok harinya akan menikah dan pergi dibawa ke tempat suaminya. Pada umumnya masyarakat tanoh (tanah) Alas di bumi sepakat segenep memeiliki kebiasaan masyarakat setempat sebagai tradisi turun–temurun memiliki nilai adat yang dijunjung tinggi tentang senandung adat ini. Melalui senandung seni adat Tangis Dilo dapat dijadikan sebagai media atau sarana curhat (curahkan hati) sseorang wanita lewat ngekhende, bersenandung. Perasaan hati sedih akan berpisah dengan keluarga di eksperesikan melalui syair-syair indah pada senandung seni tangis dilo tersebut. c. Tangis Tukhunen. Tangis Tukhunen (senandung pamit setelah menikah pamit dari rumah orang tua menuju tempat suaminya). Senandung tngis tukhunen adalah senandung yang dialantunkan saat hendak turun pamit dari rumah orang tua diantar rombongan pengantin wanita menuju rumah suaminya. Pengantin wanita bersenandung tangis tukhunen meminta pamit, izin dan meminta banyak maaf dari saudara, kerabat serta masyarakat selama ini agar tidak menjadi beban sangkut paut diyaumil masyar kelak. Senandung ini apabila dipahami, dihayati secara mendalam membawa alam bawah sadar kita, terkadang membuat orang yang mendengar ikut menangis secara sepontan, air mata meleleh, dan berderai deras seolah-olah ikut merasakan, Syair-syair syahdu dan indah tersebut sangat menyentuh perasaan. Untuk pengantin wanita adalah ini memerlukan atribut, media dan sarana sebagai berikut : 1. Bekhas seselup (beras satu bambu) 2. Lawe sentabu (air minum dalam labu) 3. Tawar (alat pesejuk secara adat) seperti padang teguh (padang kuat) sempilit bebesi, tawarkh pulih (tawar penyembuh). 4. Pelepah batang pisang yang masih hijau. 5. Tali pengikat adalah dauan pandan Manfaat Senandung seni adat Alas tangis mangkehi, tukhunen dan tangsi dilo, serta lagam memiliki makna yang sangat penting ditanamkan pada anak remaja generasi muda agar dapat menghormati, mengingat jasa-jasa pengorbanan orang tua berjuang dalam mendidiknya hingga sukses.