| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 01 December 2025 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 01 December 2025 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Seni Pertunjukan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Bireuen |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Sandiwara Geulanggang Labu
Sekitar tahun 1950-an, muncul kelompok sandiwara rakyat pertama di Aceh yang bermarkas di kampung Geulanggang Labu, sekitar 15 Km dari pusat kota kecamatan Peusangan, Matang Glumpang Dua, Aceh Utara (kini wilayah Kabupaten Bireuen) dengan palang nama Sinar Desa. Awal kelahirannya diproklamirkan seorang pemuda Aceh mantan tentara Heiho dalam dinas militer Jepang untuk urusan toneel. Dia, Sersan Ahmad Harun. Dengan peralatan sederhana Ahmad dan grupnya mulai keliling kampung ke kampung. Perlengkapan panggung, dekorasi, musik hingga penerangan masih pinjaman sukarela dari anggota grup. Ada yang mengikhlas sprei untuk layar, kosmetika istri untuk tata rias, dan petromak rumah untuk tata lampu, ditambah perkakas rumah tangga untuk properti panggung. Tak ada naskah sistematik, hanya improvisasi di lapangan yang begitu kentara. Semua cerita diolah, dibentuk dan diusung dalam sekejap saat mana permainan drama masih berlangsung. Pergantian babak, cerita, tokoh, adegan, secara langsung diarahkan Ahmad dari balik layar hingga pentas tuntas. Sebuah total-teater dari zaman awal. Ahmad sendiri mengambil peran penting dalam setiap pertunjukan sebagai Tjoet Maroehoi -seorang antagonis yang kerap memprovokasi, membuat kejutan dan mengadu-domba para tokoh dalam lakon. Begitu kompleks tugasnya; pengarang naskah, sutradara sekaligus aktor. Watak ini menjadi ciri khas sandiwara Aceh sampai perkembangan mutakhir. Tokoh ini mesti selalu ada, selalu ditunggu penonton, membuat kocak pertunjukan. Cerita-cerita banyak berasal dari legenda rakyat. Beberapa yang pernah dipentaskan antara lain cre karna ma, aneuk tiri, korban fitnah menjadi hit dalam kenangan para penontonnya.Selepas itu, ketua kelompok sandiwara Geulanggang Labu berpindah tangan ke Ahmad Benson yang kemudian melanjutkan aktifitas keliling hingga antar kabupaten se-Aceh. Kemudian estafeta ketua grup disambung adiknya, Abdullah Benson, hingga masa kemundurannya. Disamping itu, sandiwara Aceh pun mengalami perkembangan yang ramai dengan lahirnya beberapa kelompok baru yang didirikan para alumnus Geulanggang Labu tapi mendapat sentuhan baru dari grup-grup drama yang sudah tumbuh di Medan saat itu. Bintang Harapan di Krueng Mane, Sinar Jeumpa di Bireuen, Jeumpa Aceh di Kutaraja, Sinar Harapan di Matang Glumpang Dua pernah merajai dunia sandiwara keliling Aceh dan segar dalam ingatan hingga paruh akhir 1990-an. Udin Pelor dan Ismail Kakek; dua alumnus yang sampai kini masih aktif bekarya dan sangat siap menjadi saksi senja sejarah kejayaan sandiwara tradisional Aceh. Sandiwara Gelanggang Labu sebagai satu bentuk pertunjukan tradisi Bireuen yang hadir tanpa naskah utuh, namun tetap memiliki elemen dramatisasi yakni ide cerita, tokoh, setting, tata cahaya, make-up, kostum serta musik. Cerita dihadirkan dengan konsep improvisasi dari ide pokok penulis yang dikembangkan dengan bantuan sutradara dalam mengontrol sebuahgarapan. Aksi reaksi menjadi elemen penting saat pertunjukan berlansung, sebab tidak adanya batasan antara penonton dan pelaku menimbulkan interaksi yang paling dinantikan penonton. Reaksi dan tanggapan penonton inilah yang dimaksud dengan respon estetis yakni respon yang merekasi terhadap nilai-nilai estetika sebuah karya sastra, yaitu tokoh, tema, alur, latar, dan gaya bahasa. Artinya, elemen tersebut hadir atas keikutsertaan penonton dalam menghadirkan reaksi permainan aktor. Sandiwara Geulanggang Labu memiliki berbagai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dari sisi estetis, pertunjukan ini menyajikan hiburan yang menarik melalui kreativitas improvisasi, iringan musik tradisional, tata cahaya sederhana, serta tata rias dan kostum yang khas. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Tjoet Maroehoi dan karakter lainnya, beserta cerita rakyat yang diangkat, mampu menghadirkan nilai estetika sekaligus humor yang menghibur penonton. Improvisasi yang dilakukan secara langsung membuat setiap pertunjukan unik dan menghadirkan pengalaman seni yang hidup. Dari sisi pendidikan dan moral, sandiwara ini berperan sebagai media penyebaran legenda lokal dan nilai-nilai moral. Melalui cerita-cerita yang dibawakan, masyarakat diajak memahami berbagai konflik sosial, sifat manusia, dan karakter tokoh. Pertunjukan ini menjadi sarana pembelajaran budaya, di mana penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga diajak merenungkan pesan moral yang terkandung dalam cerita. Sementara itu, dari sisi sosial, Sandiwara Geulanggang Labu berfungsi mempererat kebersamaan masyarakat. Pertunjukan keliling yang dilakukan dari kampung ke kampung memunculkan interaksi sosial yang hangat antara pelaku dan penonton. Kegiatan ini juga menjadi simbol identitas budaya lokal Aceh, yang menegaskan rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya mereka. Dengan demikian, sandiwara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan memperkuat nilai-nilai sosial serta identitas kultural masyarakat Aceh. Penokohan Dalam Seni Pertunjukan Penokohan sering disesuaikan dengan kejadian aktual yang sedang terjadi di sekitar masyarakat