| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 13 March 2026 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 05 February 2026 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Seni Pertunjukan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Nagan Raya |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Rapai Tuha
Rapai Tuha berasal dari kata "Rifai" yang menunjukkan suatu wilayah dari Baghdad, Irak dan mempunyai hubungan dengan ulama sufi besar yaitu Syaikh Sayyid Ahmad ar-Rifa'i. Sayyid Ahmad ar-Rifa'i merupakan seorang sufi Tarikat Rifaiyah, orang terkemuka yang menggunakan rapai dalam pelaksanaan ibadah sebagai tarikat sufi. Syair dan Zikir yang dilantunkan oleh khalifah rapai Zikir asalnya dari Syaikh Sayyid Abdul Qadir al-Jailani.Di Nagan Raya lebih dikenal dengan Zikir Rapai Tuha. Zikir dan Shalawat Nabi, dalam pelaksanaannya Zikir Rapai Tuha ini mengandung Zikir seperti bacaan "la ilaha illallah, Allah" dan lainnya. Di samping itu juga mengandung bacaan Shalawat Nabi kepada Nabi Muhammad SAW yang dilantunkan beriringan dengan suara Rapai. Berkat pengembangan dari masa ke masa Zikir Rifai ini sampai ke nusantara tepatnya Aceh, yang kemudian berkembang di Nagan Raya. Di Nagan Raya Zikir Rifai atau Rapai Tuha ini pertama sekali dibawa oleh Sayyid Athaf bin Sayyid Abdussalam bin Sayyid Ali. Setelah Sayyid Athaf wafat maka dilanjutkan oleh anaknya Sayyid Abdul Qadir dan kemudian dilanjutkan anaknya yang bernama Qutbul Wujud Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir. Sayyid Abdurrahim mengajarkan pada anak-anaknya dan muridnya pada masa itu, termasuk para sahabatnya. Anak Sayyid Abdurrahim yang paling masyhur dengan Rapai Tuha adalah Sayyid Muhammad Yasin. Sampai saat ini masih ada Rapai peninggalan Sayyid Muhammad Yasin yang dikenal dengan nama Rapai Syaikhuna. Penyajian Rapa’i Tuha ini ada 8 (delapan) urutan yaitu, Seulaweut, Peh Ngadap, Asalamualaikom, Peh Bahri Bismillah, Peh Tren Rapa’i katren, Peh Hula-ila Haillallah, Debus, dan Doa sebagai penutup. Rapa’i Tuha diiringi oleh alat musik Rapa’i. Rapa’i Tuha ini bertempo lambat, sedang dan cepat. Di dalam syair Rapa’i Tuha, banyak yang mengandung shalawat kepada Nabi dan Keesaan Allah Swt. pelaksanaannya memiliki anggota lebih banyak dari Rapai lainya, anggota Rapai Tuha ini berkisar dari 12-60 orang. Di mana dari sebanyak anggota tersebut terdapat satu ketua yang disebut dengan khalifah untuk memimpin anggota lain pada saat Rapai Tuha ini dimainkan. Untuk mengawali kesenian ini biasanya dipimpin oleh khalifah dan kemudian dilanjutkan oleh para anggota lainnya secara bersama-sama. Di Nagan Raya Rapai Tuha ini digukan untuk hajatan, melepas nazar, kenduri pade, dan pada Upacara Kematian seperti kenduri 40 hari. Dulunya Rapai Tuha merupakan salah satu kesenian yang di anggap Saklar dikarnakan Rapai ini hanya dimaikan pada upacara adat. Sampai sekarang Masyarakat Nagan Raya masih menyakini bahwa rapai tuha memiliki keberkatan bila dimaikan pada upacara adat, dikarnakan syair yang dilantunkan merupakan puji-pujian kepada Allah SWT dan salawat kepada Nabi besar Muhammad SAW. Namun Seiring berjalannya waktu dan perkebangan zaman rapai tuha ini sudah jarang dimaikan namun ada Sebagian wilayah di Kaputen Nagan Raya yang masih menjaga keistimewaan Rapai Tuha.