Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 01 January 2025
Tahun verifikasi dan validasi : 01 March 2025
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kota Langsa
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Peuphon Kitab

Tradisi Peuphon Kitab di Kota Langsa adalah salah satu tradisi yang sangat mendalam dan penting dalam kehidupan masyarakat Kota Langsa, terutama dalam konteks pendidikan agama. Secara harfiah, Peuphon Kitab dapat diterjemahkan sebagai " Permulaan membaca kitab”, atau dengan kata lain “ Ibda’ Kitab “ Peuphon Kitab dilakukan dalam bentuk Tradisi cok beurkat (mengambil keberkahan), Ada banyak cara merealisasikan cok beurkat, mengambil keberkahan pada alim ulama. sima' dan talaqqi langsung pada alim ulama ketika hendak memulai kitab yang akan diajarkan, Tradisi ini sering di lakukan di dayah (pesantren) atau di lingkungan masyarakat Aceh, khususnya Kota Langsa karena pendidikan agama Islam di daerah ini sangat terikat dengan dayah atau pesantren, yang memiliki peran besar dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Islam di Aceh. Peuphon kitab tidak hanya sebagai proses pendidikan tetapi juga sebagai tradisi spiritual yang menghubungkan umat dengan pemahaman lebih dalam terhadap ajaran Islam. Tradisi Peuphon Kitab biasanya dilaksanakan dalam beberapa bentuk kegiatan: 1. Pembacaan Kitab Secara Bersama: Dalam tradisi ini, pembacaan kitab dilakukan oleh seorang guru atau ulama yang diikuti oleh murid-murid atau santri. Biasanya, mereka duduk bersama dalam satu ruangan, dan guru akan membacakan bagian dari kitab yang sedang dipelajari. Murid-murid mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama. 2. Penyampaian Tafsir dan Penjelasan: Setelah pembacaan, biasanya akan ada penjelasan lebih lanjut tentang isi kitab tersebut. Guru akan mengulas makna yang terkandung dalam kitab, baik dari segi ilmu agama maupun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan agar para murid tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan ajaran yang terkandung dalam kitab. 3. Pengajaran Kitab Klasik: Peuphon Kitab biasanya mencakup kitab-kitab klasik yang digunakan dalam pendidikan agama, seperti kitab fiqh (ilmu hukum Islam), tafsir (penafsiran Al-Qur'an), tasawuf (ilmu tentang kedekatan dengan Tuhan), dan hadist. Kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan sering kali menggunakan bahasa yang agak sulit dipahami, sehingga membutuhkan guru yang berpengetahuan luas untuk menjelaskan maknanya. 4. Keberlanjutan dan Pengulangan: Pembacaan kitab dalam tradisi ini biasanya dilakukan secara rutin, bisa setiap hari atau pada waktu tertentu, untuk menjaga kesinambungan dan keberlanjutan dalam memahami ajaran Islam. Pengulangan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa para santri benar-benar menguasai materi yang diajarkan. Tujuan Tradisi Peuphon Kitab 1. Menghormati Ilmu: Pembacaan kitab dilakukan dengan penuh penghormatan, karena kitab-kitab tersebut dianggap sebagai wahyu Allah atau sebagai sumber ilmu yang sangat berharga dalam kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di Kota Langsa. 2. Mendalamkan Pemahaman Agama: Tradisi ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman ajaran Islam di kalangan masyarakat di Kota Langsa, terutama para santri yang tengah menuntut ilmu agama di dayah. 3. Melestarikan Warisan Budaya: Tradisi ini juga berfungsi untuk melestarikan warisan budaya dan ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak lama, yang diturunkan secara turun-temurun dalam bentuk lisan maupun tulisan. 4. Membangun Karakter Santri: Selain aspek keilmuan, Peuphon Kitab juga membantu membentuk karakter santri menjadi lebih religius, disiplin, dan tawadhu (rendah hati). Dalam tradisi ini, keseriusan dalam belajar sangat dihargai. Peran Tradisi Peuphon Kitab dalam Masyarakat di Kota Langsa 1. Pendidikan Agama: Dayah (pesantren) di Kota Langsa memiliki peran utama dalam menjaga dan mengajarkan ajaran Islam, dan Peuphon Kitab adalah salah satu metode yang digunakan untuk mencapainya. 2. Spiritualitas Masyarakat: Tradisi ini juga memperkuat ikatan spiritual antara guru, santri, dan masyarakat. Setiap pembacaan kitab sering kali dipandang sebagai bentuk ibadah, sehingga masyarakat di Kota Langsa merasa semakin dekat dengan agama. 3. Penerusan Nilai-Nilai Agama: Melalui tradisi ini, nilai-nilai Islam diteruskan dari generasi ke generasi, menjaga agar masyarakat tetap pada prinsip-prinsip ajaran agama yang kuat. 4. Meningkatkan Penghormatan terhadap Ilmu dan Guru: Dalam tradisi ini, ada rasa hormat yang tinggi terhadap kitab-kitab kuno dan guru yang menyampaikannya. Pembacaan bersama di dayah menciptakan suasana yang penuh kekhusyukan dan penghormatan terhadap ilmu, serta hubungan yang erat antara guru dan murid Guru dalam tradisi Peuphon Kitab berperan sangat besar. Tidak hanya sebagai pengajar yang membacakan kitab, tetapi juga sebagai penafsir dan pembimbing yang membantu santri memahami konteks dan makna yang terkandung dalam kitab tersebut. Tanpa penjelasan dari guru, pembacaan kitab kuno bisa jadi sulit dipahami, mengingat banyaknya istilah dan bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab tersebut.