Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 18 May 2026
Tahun verifikasi dan validasi : 30 October 2025
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Ritus

Detail OPK

Apakah Ritus Masih Dilaksanakan? : Ya
Etnis yang Menggunakan : Aceh
Jenis Ritus : Ritual Kepercayaan
Nama Rapalan/Mantra yang Digunakan : zikir dan doa tulakbala
Perlengkapan Ritus : -
Komponen Pelaku Ritus : masyarakat gampong

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Barat
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Meujalateh

Kata Jalateh adalah wujud vernakularisasi pengucapan dari Bahasa Arab "Ya Latif" yang berarti "Wahai Yang Maha Lemah Lembut”. Ya Latif adalah pemanggilan dan permohonan kepada yang maha lemah lembut untuk mengampuni dan mengasihi hambanya yang ditimpa kemalangan. Ada dua makna Al Lathif berikut ini: Allah Maha Mengetahui segalanya dan ilmu-Nya mencakupi segala rahasia, perkara yang tersembunyi, perkara ghaib, perkara yang tersemat di dalam dada dan segala sesuatu walaupun bagaimana halus dan kecilnya. 2. Allah Maha Halus terhadap hamba-Nya dan wali-Nya dengan menyempurnakan untuk mereka ihsan dan kebaikan-Nya, mengangkat derajat mereka ke martabat yang tinggi, memudahkan urusan mereka dan menghindarkan mereka dari kesusahan. Meujalateh adalah sebuah tradisi doa bersama masyarakat Aceh yang dilaksanakan dengan cara berjalan keliling gampong sambil melantunkan Doa secara kolektif. Tradisi ini dilakukan di bulan Safar, dimulai dari Shalat Magrib berjamaah di Masjid atau meunasah, dilanjutkan keliling kampung, dan diakhiri kembali ke masjid untuk Shalat Isya serta doa Samadiah Secara makna, Meujalateh adalah: Ritus religius untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan terhindar dari bahaya. Wadah kebersamaan sosial yang mempererat silaturahmi warga. Warisan budaya tak benda yang memadukan nilai agama, adat, dan identitas masyarakat Aceh Barat. SEJARAH Menurut penuturan para tetua di Gampong Leukeun, Meujalateh telah ada sejak mereka dilahirkan. Berdasarkan penelusuran sejarah gampong, tradisi ini diperkirakan telah berlangsung sejak sebelum tahun 1934. Perkiraan tersebut diperkuat oleh catatan Belanda yang ditemukan di Museum Susoh, yang mencatat keberadaan Gampong Leukeun pada tahun 1934. Dengan demikian, besar kemungkinan Meujalateh telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Leukeun sejak masa-masa awal keberadaan gampong ini. Tahapan Persiapan Spiritual Belajar dan melatih bacaan doa agar ritus berjalan sesuai dengan kaidah syariat islam Peralatan Mempersiapkan peralatan sesuai dengan tradisi yang sudah diwarisi dari generasi sebelumnya Sajian/Makanan Mempersiapkan peralatan sesuai dengan tradisi yang sudah diwarisi dari generasi sebelumnya Tahapan Pelaksanaan Shalat Magrib Berjamaah Prosesi diawali dengan melaksanakan shalat Magrib berjamaah di masjid sebagai bentuk penguatan iman dan niat bersama memohon perlindungan kepada Allah SWT. Keliling Gampong Setelah shalat Magrib, peserta berbaris rapi dipimpin oleh pembawa peunyeunut di barisan paling depan, diikuti pembawa obor, tongkat, dan bendera.Arak-arakan berjalan mengelilingi gampong sambil membaca doa-doa Meujalateh secara serempak. Prosesi dimulai dari masjid dan berakhir kembali di masjid Shalat Isya dan Samadiah Setibanya di masjid, seluruh peserta melaksanakan shalat Isya berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dan doa Samadiah untuk keselamatan warga serta arwah para leluhur gampong. Sajian dan Makanan Prosesi ditutup dengan menikmati hidangan yang telah disiapkan secara gotong royong sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.