Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 23 October 2024
Tahun verifikasi dan validasi : 23 October 2024
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Barat Daya
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Manoe Pucok

Manoe Pucok merupakan mandi dengan ornamen anyaman pucuk daun kelapa yang diiringi dengan gerakan tarian pho (meuratoh/meratap dengan syair) yang diambil dari kisah Si-MALELANG dan Si-MADION pada zaman Kerajaan Kuala Batee sekitar abad 18. Kerajaan Kuala Batee awalnya adalah sebuah wilayah Ulee Balang Susoh. Kerajaan ini merupakan pecahan dari Lama Muda yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha yang hancur diterjang banjir pada tahun 1740-an. Berdasarkan Buku Himpunan Sejarah dan Kebudayaan yang disusun oleh Ikatan Masyarakat Susoh, gerakan tarian pho dan syairnya diambil dari cerita Si-Malelang dan Si-Madion. Malelang-Madion adalah kisah kehidupan sepasang kekasih yang saling mencintai, namun kisah cinta mereka harus berakhir di usia muda karena hasutan Perdana Menteri yang pernah ditolak pinangannya oleh Madion. Mereka dituduh telah menodai kesucian Kerajaan dengan perbuatan melangar hukum sehingga dijatuhi hukuman rajam sampai mati oleh pihak kerajaan. Mendengar keputusan tersebut, ibu mereka meminta tempo kepada raja selama 7 hari untuk diberikan pacar/inai dan diukir seperti pengantin, kemudian setelah dijatuhi hukuman, mereka meratapi anak tersebut dalam bentuk lingkaran sambil bersyair. Dari kisah inilah munculnya sket tari pho dan syairnya yang digunakan pada budaya manoe pucok. Filosofi budaya manoe pucok merupakan tradisi zaman dahulu yaitu pada masa Ulee Balang Susoh, pada masa itu belum mengenal sabun. Jadi, supaya tubuhnya bersih dan wangi maka orang zaman dulu menggunakan bunga untuk mewangikan tubuhnya, karena bunga bisa memberikan kesegaran dan keharuman dibadan Menurut kepercayaan masyarakat di Kecamatan Susoh terdahulu, Manoe Pucok menjadi rutinitas yang harus dilaksanakan sebelum menjadi pengantin baru (duek sandeng) selain itu beberapa hal yang harus dilakukan sebelum manoe pucok diantaranya; memakai inai (boh gaca), khatam Al-Quran, dan peusijuk. Manoe Pucok merupakan bagian dari upacara perkawinan dan upacara sunat Rasul. Manoe dalam bahasa Aceh mempunyai arti mandi atau membersihkan tubuh dengan menggunakan air yang disiram keseluruh tubuh. Namun, manoe yang dimaksud di sini adalah memandikan pengantin, baik pengantin perkawinan (laki-laki dan perempuan) maupun pengantin sunat. Pucok berarti daun yang paling muda atau pucuk daun yang paling atas dari sebatang pohon kayu. Namun, pucok yang dimaksud di sini mengandung makna perbuatan terakhir yang dilakukan oleh kedua orang tua kepada anaknya yang akan menikah dan tahap pertama bagi seorang anak laki-laki yang akan disunat dan ungkapan yang disimbolkan dalam pembersihan diri sebelum menempuh kehidupan yang baru. Manoe pucok dilakukan oleh satu grup peumano pucok, biasanya delapan orang; seorang syahi dan tujuh orang aneuk syahi. Syahi disediakan sebuah tempat duduk yang agak jauh dari pengantin yang akan diseumano (dimandikan) dengan air yang telah disediakan dalam timba-timba besar yang sudah diisi Rangkaian Biluluk (anyaman daun kelapa muda yang telah dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai corak: seperti limpan (sipasen), keris, bunga Si yuyun, tikar, dsb). Dan ketujuh aneuk syahi akan menari Trian Pho dengan menepuk tangan sambil menunduk sembari bergerak pelan mengelilingi pengantin dan timba-timba itu dengan irama syair yang telah ditentukan dan tepukan yang seakan menjadi musik pengiring yang teratur dan serempak.