Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 01 December 2025
Tahun verifikasi dan validasi : 15 December 2023
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Pidie Jaya
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Madeung

Madeung dalam masyarakat Aceh (Pidie Jaya khususnya) adalah proses yang dijalani ketika seorang perempuan melahirkan. Fase ini secara tradisional dipahami sebagai fase “penyembuhan” selama sekitar 44 hari. Setelah periode periode 44 hari berlalu, baru madeung dianggap selesai. Penentuan jumlah sebanyak 44 hari, sepertinya merujuk pada batasan waktu darah nifas yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih. Walaupun demikian proses madeung tersebut tidaklah didasarkan pada literature fiqih Islam secara spesifik, namun lebih banyak didominasi oleh adat kebiasaan dan tradisi yang secara turun-temurun dipraktikan oleh generasi ke generasi. Pihak keluarga perempuan akan terlibat aktif membantu dalam poses madeung, baik dalam menyiapkan obat maupun dalam memastikan bahwa pantangan dan larangan, terutama terkait makanan apa yang tidak boleh/boleh dimakan, dipatuhi oleh orang yang sedang madeung. Untuk kepentingan Madeung, lazimnya disiapkan tempat khusus yang biasanya dipisah dari kamar tidur mereka, untuk memudahkan akses semua pihak yang ingin membantu selama proses kelahiran dan madeung. Setelah sang anak lahir, si ibu akan mulai memasuki fase madeung sampai 44 hari berikutnya. Secara tradisi selama madeung, seorang perempuan tidak keluar rumah, atau melakukan kegiatan-kegiatan berat lainnya. Tidak hanya itu, keluarga (biasanya kerabat peempuan, termasuk ibu atau ibu mertuanya) akan memberikan aturan yang ketat tentang makanan yang boleh dimakan dengan asumsi untuk penyembuhan luka pasca melahirkan, serta pantangan lainnya. Sebagai contoh, orang yang madeung tidak boleh minum air putih dalam jumlah banyak, dan tidak boleh makan makanan yang banyak mengandung minyak. Dengan demikian makanan mereka cenderung kering dan tidak banyak mengandung air. Hal lain yang membedakan madeung secara tradisional adalah proses pembakaran batu sebagai salah satu bentuk pengobatan untuk penyembuhan yang diletakan diatas perut orang yang bersalin selama beberapa saat. Hal ini diulang sampai berkali-kali sebagai bentuk terapi untuk menormalkan kembaki organ-organ reproduksi (rahim). Seiring waktu dan temuan-temuan modern dalam bidang kedokteran, termasuk terkait pengobatan pasca persalinan, pengobatan tradisional yang menggunakan herbal kemudian diganti dengan pemberian obat-obatan kimiawi. Begitu juga pembakaran batu yang bisasanya di lakukan, juga sudah jarang ditemui. Namun demikian fase pasca melahirkan (bersalin) bagi seeorang perempuan dalam masyarakat Aceh tetap disebut “madeung” sebagai wujud dari fase penyembuhan setelah melahirkan.