| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 25 November 2024 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 25 November 2024 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | - |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Khanduri Molod
Khanduri molod dilaksanakan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid di Aceh berlangsung selama tiga bulan, yang dibagi menjadi tiga fase: Maulid Awal, Maulid Tengah, dan Maulid Akhir. Perayaan dimulai pada bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai buleuen molod (maulid awal), dilanjutkan pada bulan Rabiul Akhir, yang disebut buleuen adoe molod (maulid pertengahan), dan diakhiri pada bulan Jumadil Awal, yang disebut buleuen molod seuneulheuh (maulid akhir). Setiap desa di Aceh akan melaksanakan khanduri ini dengan waktu yang berbeda beda antara satu desa dengan desa lainnya sepanjang tiga bulan perayaan. Perbedaan waktu ini dimaksudkan agar masyarakat satu desa dengan masyarakat desa lainnya bisa saling mengunjungi untuk berzikir, membaca dalail khairat dan mendengar ceramah maulid bergiliran dari satu desa ke desa lainnya. Pelaksanaan hari pertama maulid (12 rabiul Awal) biasanya dilaksanakan secara meriah di mesjid mesjid tingkat kemukiman, kecamatan, kabupaten dan provinsi. Sementara untuk tingkat gampong (desa) meski ada juga yang melaksanakan pada maulid hari pertama, kebanyakan melaksanakannya pada hari-hari selanjutnya dalam kurun waktu tiga bulan perayaan tersebut. Penentuan waktu khanduri molod di tingkat desa dilakukan melalui musyawarah di Meunasah yang dipimpin oleh Teungku Imum Meunasah, Tuha Peut, Tuha Lapan dan Geuchik desa tersebut. Penentuan waktu itu dilakukan bersama agar semua masyarakat bisa berpartisipasi dalam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Bagi masyarakat Aceh kenduri maulid merupakan suatu keharusan, jadi pelaksanaannya harus dilakukan secara matang, agar semua keluarga baik yang kaya maupun berekonomi lemah mampu melaksanakannya. Setiap rumah akan menyiapkan hidangan untuk diantar ke meunasah atau mesjid tempat perayaan maulid dilakukan. Makanan tersebut dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut (bu kulah) yang diatur rapi dalam sebuah talam, begitu juga dengan aneka masakan, lauknya disusun rapi dalam hidangan berlapis (idang meulapeh), lauk biasanya dari aneka daging dan ikan pilihan yang sengaja dipersiapkan untuk dikendurikan pada hari memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pemuda desa akan bertindak sebagai panitia yang akan membagi-bagikan hidangan tersebut kepada ratusan tamu yang datang dari berbagai desa tetangga untuk menikmati santapan maulid. Selain membawa hidangan ke meunasah, masyarakat juga melaksanakan kenduri maulid di rumah untuk para tamu. Kemeriahan kenduri maulid hanya akan berhenti sejenak pada waktu shalat, masyarakat akan menghentikan aktivitasnya untuk shalat berjamah dan kemudian melanjutkannya kembali. Pada malam hari usai shalat isya, akan diadakah ceramah maulid oleh seorang Teungku pilihan yang diundang khusus dari daerah tertentu. Masyarakat akan berbondong-bondong ke meunasah untut mendengar ceramah maulid yang berisikan sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam menyebarkan agama Islam.