| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 23 January 2025 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 23 January 2025 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan - Perayaan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Pidie Jaya |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Khanduri Apam
Khanduri apam dilaksanakan pada 27 Rajab yang diperingati sebagai hari israk mikraj Nabi Muhammad SAW. Khanduri apam pada bulan Ra’jab merupakan rutinitas tahunan yang sudah dijalankan oleh masyarakat Pidie Jaya. Pada malam 27 Rajab, masyarakat desa berkumpul di Meunasah (Surau) untuk mendengar cermah tentang peristiwa israk mikraj yang dialami Nabi Muhammad SAW. Ceramah ini disampaikan oleh seorang Teungku, baik oleh Teungku di Gampong tersebut maupun teungku yang didatangkan dari daerah lain. Khanduri apam merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh Darussalam, menurut ceirita dulunya khanduri apam ini diadakan untuk mendoakan Almarhum yang sudah meninggal dunia dengan cara menyedekahkan apam (Sejenis Kue Serabi) yang sudah disediakan oleh keluarga almarhum untuk disedekahkan. Masyarakat Pidie Jaya percaya bahwa khanduri apam ini sebagai bentuk sedekah untuk mendapatkan keberkahan di alam kubur bagi jiwa yang telah meninggal. Apam merupakan kue sejenis serabi, bahan yang digunakan adalah beras yang sudah digiling menjadi tepung, setelah digiling tepung tersebut dijemur di bawah terik matahari agar adonannya dapat menghasilkan tekstur yang bagus dan kenyal, tepung beras dan santan kelapa dicampur dengan air dan garam lalu dituangkan kedalam wadah tanah liat (beulangong teut apam) dengan menggunakan aweuk (centong) yang diolesi minyak makan. Kadar olesan minyak hanya sebatas cukup untuk diserap satu apam. Saat adonan apam sudah matang terlihat berlubang-lubang, kemudian adonan tersebut dapat diangkat dan diletakkan di atas nampan yang dilapisi daun pisang.