| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 10 June 2026 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 05 February 2026 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Tradisi Lisan |
| Etnis Penutur | : | Aceh Gayo |
| Komponen Tokoh/Pelaku | : | - |
| Media Penyajian | : | - |
| Kategori Cerita Rakyat | : | Sejarah Lisan |
WBTb
Nama Lainnya : Kekeberen
Pengertian Kekeberen Kekeberen adalah salah satu dari sastra lisan yang ada di Tanoh Gayo. Kata dasar Kekeberen ini berasal dari kata “keber” yang dalam bahasa Indonesia berarti kabar, berita, atau kisah. Secara singkat, Kekeberen adalah tradisi lisan yang dimiliki oleh masyarakat Gayo sejak zaman dahulu, yang sangat bermanfaat dalam kehidupan masyarakatnya. Cara-cara untuk mengajarkan kebaikan kepada anak cucu melalui cara yang mudah mereka pahami. Aspek Sejarah Kekeberen Secara historis, kekeberen diyakini sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Linge ( 9 – 12 M ). Kekeberen dalam masyarakat Gayo memiliki latar belakang dan budaya serta hasil lingkungan yang merupakan pengalaman masyarakat Gayo. Kekeberen yang ada digunakan sebagai pembentuk watak manusia aslinya. Dahulu kekeberen digunakan orang-orang tua untuk membentuk watak anak cucunya atau generasi muda agar menjadi manusia yang baik. Kekeberen juga digunakan sebagai alat kontrol sosial, yang digunakan untuk mendidik manusia hidup sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat Gayo. Sebagai salah satu bentuk tradisi lisan, kekeberen merupakan kebiasaan berbentuk lisan bukan tulisan. Kekeberen memiliki peristiwa atau kegiatan sebagai konteksnya. Kegiatan tersebut berupa penyampaian cerita oleh orang tua (nenek/kakek) kepada cucu-cucunya pada malam hari. Cerita yang dikisahkan tersebut bisa diamati oleh cucu-cucu dengan harapan bisa menjadi pelajaran. Sebagai kegiatan berkonteks tradisional, tradisi kekeberen ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Media yang digunakan hanya secara lisan dari mulut ke telinga. Kekeberen juga digunakan masyarakat Gayo untuk mewariskan sejarahnya kepada generasi muda. Aspek Nilai Tradisi Berkekeberen mengandung nilai-nilai budaya sebagai inti sari kearifan lokal. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kekeberen, diantaranya : • Nilai Musyawarah Musyawarah atau dalam bahasa Gayo “Genap Mupakat” merupakan wadah yang digunakan untuk mencari solusi sebuah permasalahan. Dengan musyawarah, berbagai pandangan dan pendapat akan berbenturan satu sama lain, sampai akhirnya muncul kesepakatan yang semestinya diterima bersama. Berbagai sengketa telah berhasil didamaikan melalui musyawarah, minsalnya sengketa mengenai urusan agama, politik, sampai ke hal-hal kecil sekalipun. Seperti yang terdapat dalam kalimat kekeberen berikut “Entineko gelisah, Tenironi edet enge sawah, Gelah jeroh itetah langkah, Hukum berluah kuatas dirimu” makna yang tersirat dalam bait kekeberen ini menjelaskan bahwa dalam musyawarah kita akan menemukan perbedaan pendapat dari yang kita sampaikan. Disinilah kita melatih menahan emosi dan menghargai orang lain. Kalau dalam keluarga melatih suami atau kepala rumah tangga mendengarkan pendapat anggota keluarganya. • Nilai Kepatuhan pada adat Nilai kepatuhan pada adat terdapat dalam kalimat dalam kekeberen pada masyarakat Gayo Seperti “manat ari ama teguh berpantik, Kin duduk ni tenge entiko macik, Ike mubalik mujadi atu” dalam bahasa Gayo dikatakan edet mungenal ukum mubeda, sementara syariat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Pasal-pasal yang mengatur tentang kepatuhan pada adat dalam kekeberen pada masyarakat Gayo sejak dahulu hingga kini tetap dipertahankan pelaksanaannya. • Nilai Kasih Sayang Kasih sayang dalam bahasa Gayo “semayang gemasih” merupakan sifat alamiah dasar manusia yang muncul jika ada seseorang yang tidak ingin melihat sesamanya mengalami kesulitan, dan segera menolongnya. Kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat muncul dari dalam lingkungan keluarga yang diperoleh dari kedua orang tua sejak lahir hingga dewasa. Dalam peribahasa masyarakat Gayo dinyatakan bahwa ”kasih enti lanih, sayang enti lelang” artinya bila kasih janganlah terlambat, andaikan sayang jangan juga setengah hati, dalam hakikat budaya Gayo kata semayang gemasih (kasih sayang) adalah merupakan ciri khas yang perlu dipertahankan dan dilestarikan untuk kemajuan masyarakat Gayo. • Nilai Tolong Menolong Prilaku tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari digambarkan juga oleh masyarakat Gayo sebagai “alang tulung beret berbantu” kalimat ini mengandung prinsip melakukan kegiatan secara bersama-sama dalam sebuah masyarat. Makna lain dari kalimat ini adalah tolong menolong dalam melakukan pekerjaan yang berat. Melalui kekeberen masyarakat Gayo menanamkan nilai-nilai tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari agar anak ketika sudah dewasa mampu menjadi pribadi yang baik yang mempunyai prilaku dan sikap yang mengutamakan kebutuhan dan kepentingan orang lain dengan segala pengorbanan tanpa pamrih. Selain nilai budaya, dalam kekeberen juga terdapat : • Nilai Pendidikan karakter. Salah satu cara pada masyarakat Gayo ditanamkan pendidikan karakter melalui kekeberen karena isi dari kekeberen ini bisa membuat generasi Gayo menjadi generasi yang berkarakter sesuai dengan adat dan istiadat yang ada. Maka dari itu pada pembahasan nilai pendidikan karakter berikut ini akan dibahas nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kekeberen Peteri Pukes pada masyarakat Gayo. nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat diambil dari kekeberen; (1) Peduli; adalah kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain (empati). (2) Pemberani; adalah sikap pantang menyerah, salah satu sifat yang dikaruniakan Allah kepada setiap manusia. Meskipun dalam hatinya merasa takut, namun tetap maju meskipun rasa takut menyelimuti. (3) Rela berkorban; adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan keikhlasan. (4) Penyesalan. • Nilai Pendidikan Religius Substansi nilai-nilai pendidikan religius melalui kekeberen pada masyarakat Gayo ; Nilai keteladanan, Nilai nasehat, Nilai akhlak. • Nilai Pendidikan Moral Moral dalam kekeberen dapat diapndang sebagai pesan, amanat, atau message. nilai nilai moral yang terkandung dalam kekeberen : Nilai kesabaran; Nilai kegigihan; Nilai tanggung jawab; Tujuan Berkekeberen, sepintas dianggap sebagai penghibur anak, terutama sekali yang berkenaan dengan kekeberen yang bertokoh jenaka. Hal itu dapat dipahami apabila ditinjau dari segi waktu, kapan kekeberen itu dicantumkan. Pada umumnya, kekeberen berlangsung pada waktu senggang, baik karena diminta maupun karena adanya dorongan dari penutur kebeberen, yaitu anan atau awan yang menuturkannya. Tujuan terpenting sesungguhnya adalah pesan diakhir cerita yang disampaikan penutur. Selain tujuan tersebut, isi kekeberen yang disampaikan dapat memberi petunjuk tentang apa yang benar dan salah. Melalui kekeberen ternyata juga dapat menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan kepada leluhur atau tokoh terdahulu sebagai bentuk penghargaan dan pengormatan. Kekeberen dahulu juga digunakan sebagai penghibur. Pada masa lalu, bukan hanya anak-anak yang dihibur melainkan juga orang–orang dewasa yang setelah seharian bekerja atau melakukan kegiatan lainnya. Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi kekeberen bertujuan dalam pembentukan kepribadian generasi muda sebagai modal sosiokultural khususnya utuk dua tujuan penting, yakni penciptaan kedamaian dan peningkatan kesejahteraan generasi mendatang. Kekeberen juga dianggap sebagai tugas dan kewajiban serta tanggung jawab para pelaku atau penutur kekeberen yang belum sempat mendokumentasikan cerita-cerita menjadi buku. Alasan lain karena kekeberen sebetulnya telah mengakar dalam hati masyarakat Gayo, karena isi kekeberen itu ada beberapa kategori, diantaranya: Pertama, Al-qur’ani yaitu kekeberen tentang kisah para nabi. Kedua; An-Nabawi yaitu kekeberen tentang cerita-cerita tentang hikayat yang dikisahkan rasul. Ketiga; legenda, diantaranya Peteri ijo, peteri pukes, dan Atu Belah. Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan sejak dini, diharapka akan terus menjadikan generasi muda Gayo menjadi manusia yang memiliki akhlak dan sopan santun yang baik. Sesuai dengan amanat yang selalu disampaikan penutur Kekeberen.