| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 13 March 2026 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 06 March 2026 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Keterampilan / Kemahiran dan Kerajinan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Aceh Jaya |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Eungkot Masen Patek
1. Aspek Kesejarahan Sejarah eungkot masen/ ikan asin di Indonesia sudah ada sejak abad ke-8 Masehi dan tercatat dalam prasasti: Prasasti Pangumulan A berangka tahun 824 saka atau 902 Masehi, prasasti ini menyebutkan jenis-jenis ikan yang diasinkan, seperti ikan kembung, ikan kakap, dan ikan tenggiri. Prasasti Rukam Berangka tahun 829 saka atau 907 Masehi, prasasti ini menyebutkan bahwa ikan asin yang dikeringkan disebut dendain atau grih. Ikan asin merupakan hasil teknik pengasinan, yaitu dengan cara mengawetkan ikan agar tahan lama dengan garam dan teknik pengasinan makanan ini diperkirakan sudah dikenal sejak masa Neolitik (sekitar 10.000–3.000 SM) . (sumber:https://www.facebook.com/groups/295486140883937/posts/213058986070688/). Demikian pula di daerah Aceh Jaya engkot masen/ ikan asin dikenal secara turun temurun dari nenek moyang sejak zaman dahulu, seperti yang dituturkan oleh Bapak Sulaiman selaku maestro dan pengrajin eungkot masen Patek ini yang bahwasanya, eksistensi beliau mulai mempraktekan eungkot masen sebagai mata pencaharian dari keturunan beliau mulai tahun 1977 hingga sekarang. Belai melanjutkan eungkot masen ini merupakan simbol identitas dan ketahanan pangan sejak masa lalu yang mana nenek moyang kita hanya mengandal hidup dari alam dan hasil laut. Pun profesi yang telah lama ditekuni sejak zaman dulu yaitu sebagai pelaut dan tidak heran jika hasil lautlah yang dapat diolah sedemikian rupa agar keberlangsungan hidup terjaga, hingga kemudian nenek moyang dahulu melakukan metode dengan mengawetkan ikan dengan air laut untuk berjaga-jaga ketika musim angin tidak bisa berlayar mencari ikan. Melalui metode pengawetan ikan dimasa lalu tersebutlah berkembang hingga sekarang proses pengasinan ikan hingga menjadi lauk pauk yang sangat lezat yang dikenal secara luas oleh masyarakat yaitu ikan asin. Ikan asin merupakan bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam, dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Selain itu, daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infeksi serangga, larva lalat, dan beberapa jasad renik perusak lainnya. Pengeringan atau pengasinan, baik dengan garam kering maupun air garam, adalah satu-satunya metode pengawetan ikan yang tersedia secara luas sampai abad ke-19. Seperti daging asin lainnya, ikan asin pun menyediakan protein hewani yang diawetkan bahkan tanpa pendinginan. Ikan asin memiliki kaitan erat dengan kebudayaan Nusantara sebagai warisan kuliner turun-temurun sejak era kerajaan maritim seperti Majapahit dan Sriwijaya, berfungsi sebagai metode pengawetan protein hewani yang murah dan tahan lama. Lebih dari sekadar makanan, ikan asin melambangkan kebersamaan, ketahanan pangan masyarakat pesisir, dan bagian dari tradisi kuliner daerah. secara geografis Kabupaten Aceh Jaya terletak di pesisir barat Pulau Sumatra dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia (atau sering disebut sebagai Samudera Indonesia) di sebelah barat dan selatan dimana delapan dari sembilan kecamatannya berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pesisir ini membentang sepanjang 156 km secara umum sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang mendukung perekonomian masyarakat pesisir. Berdasarkan data dari dinas perikanan dan kelautan Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2020 tercatat sebanyak 2.330,24 ton hasil dari produksi ikan, baik dari kelompok perikanan tangkap, kelompok budidaya ikan dan kelompok pengolah hasil perikanan (SDGs Aceh Jaya, 2021). Ketika memasuki Kabupaten Aceh Jaya aroma khas pun tercium menggoda para pengguna jalan yang lewat melintasi Jalan Banda Aceh-Meulaboh khususnya didaerah Patek dengan eungkot masen yang digantungkan sepanjangan mata memandang. Didaerah Patek banyak kita dapati rumah produksi olahan eungkot masen secara pribadi untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual sebagai oleh-oleh khas Aceh Jaya. Pasca Tsunami olahan dan produksi eungkot masen ini sempat terhenti akibat banyak masyarakat yang tidak mau mengonsumsi ikan untuk sementara waktu akibat berkembangnya isu ikan-ikan dilaut banyak menelan potongan mayat korban Tsunami hal yang sangat wajar sekali mereka tidak mengonsumsi ikan pada masa itu dikarenakan wilayah Aceh Jaya merupakan daerah terparah dampak akibat gempa dan Tsunami Tahun 2004 lalu. Setelah melalui proses trauma healing yang panjang perlahan namun pasti eksistensi eungkot masen mulai diminati kembali dengan proses yang semakin baik, masyarakat mulai menghidupkan kembali perekonomian melalui olahan eungkot masen. Berdasarkan sumber dari Pipi Murfiza, S.Pd., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda dalam artikelnya beliau menuliskan eungkot masen disini sudah dikenal sejak dulu karena kualitasnya terbaik di Aceh, rahasia di balik ikan asin berkualitas tinggi itu adalah ikan asinnya berasal dari ikan segar yang baru ditangkap. Jadi, tidak ditunggu saat ikannya hampir busuk baru dijadikan ikan asin, rahasia lainnya, pengolahan ikan-ikan kering asin tersebut tidak menggunakan zat pengawet kimia berupa formalin ataupun boraks hanya mengandalkan garam untuk pengawetan. Pengolahannya dilakukan langsung dari ikan segar hasil tangkapan nelayan tradisional setiap pagi mengunakan alat oven solar dryer (OSD). Penggunaan alat ini cukup mudah, lebih efektif dan efisien, tak perlu repot mengangkat ikat asin yang sedang dijemur manakala hujan tiba-tiba turun. Selain itu, produksi ikan asin menjadi lebih higienis, bebas dari debu, maupun dari hinggapnya lalat yang akan menghasilkan telur, sebagai penyebab berulatnya ikan asin dn proses pengeringan ikan pun menjadi lebih cepat tergantung dari pencahayaan matahari. Harga ikan asin di Aceh Jaya berkisar Rp10.000-Rp60.000 per kilogram, jenisnya berbagai macam mulai dari ikan teri, udang, ikan karang hingga gurita yang semuanya diasinkan dan dikeringkan dengan baik. Berdasarkan hasil pemantauan dan diskusi kelompok terpumpun (FGD) pada tahun 2025, perairan Kabupaten Aceh Jaya dinilai memiliki potensi bahari yang sangat kaya dan menjadi fokus utama untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan: Pemetaan Kawasan Konservasi: Pada bulan Juni 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh mengadakan FGD di Lhok Timon, Setia Bakti, untuk membahas pengzonasian kawasan laut demi pelestarian dan pemulihan ekosistem, Investasi Sektor Perikanan: Pemkab Aceh Jaya sedang menggenjot investasi di bidang kelautan dan perikanan, termasuk potensi budidaya rumput laut yang dinilai memiliki prospek tinggi. Keterlibatan Akademisi: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar (FPIK UTU) terlibat aktif dalam penyusunan kawasan konservasi perairan di Aceh Jaya, menunjukkan sinergi antara akademisi dan pemerintah dalam pengelolaan potensi laut. Komoditas Unggulan (Berdasarkan Tren Historis & Potensi): Meskipun survei spesifik volume total per akhir 2025 belum sepenuhnya dirilis, hasil tangkapan utama di perairan Aceh Jaya didominasi oleh komoditas bernilai ekonomis tinggi seperti ikan tenggiri, tongkol, kuwe, tuna, cakalang, dan teri. Target Produksi Perikanan: Secara regional, produksi perikanan tangkap hingga Desember 2025 ditargetkan meningkat dibandingkan tahun 2024, didukung oleh intensifikasi pengelolaan wilayah pesisir di Aceh, termasuk Aceh Jaya. Arahan Jangka Panjang: Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten (RPJPK) Aceh Jaya 2025-2045 menjadikan sektor perikanan sebagai pilar strategis untuk mencapai daerah yang “Istimewa dan Berjaya”. (FPIK UTU Terlibat Dalam Penyusunan Kawasan Konservasi Perairan Aceh Jaya, 30 Juni). Secara budaya, ikan asin terus bertahan melewati zaman, menunjukkan adaptasi kuliner tradisional di tengah perkembangan zaman, keunikan ikan asin Aceh Jaya dalam konteks budaya: 1. Metode Tradisional Tanpa Pengawet: Ikan asin Aceh Jaya umumnya diolah secara rumahan dengan teknik tradisional, hanya mengandalkan garam dan sinar matahari. Hal ini menjamin kualitas dan cita rasa alami. 2. Sentra Ekonomi Sepanjang Jalan (Kuliner Jalanan): Penjualan ikan asin di Aceh Jaya (khususnya daerah Calang dan Patek) menjadi ciri khas budaya kuliner pesisir. Penjual berjejer di sepanjang jalan lintas, menjadikannya oleh-oleh wajib bagi pelintas antarprovinsi. 3. Budaya “Per Bambu”: Ikan asin di wilayah ini sering dijual menggunakan takaran tradisional, yaitu per bambu, bukan hanya kilogram, yang setara dengan 1,5 kg. 4. Komoditas Utama Wisatawan (Oleh-oleh Ikonik): Ikan asin dari Aceh Jaya sangat diminati, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan, bahkan sering menjadi buah tangan utama saat hari libur atau lebaran. 5. Ikan Endemik (Si Mata Biru): Salah satu keunikan yang dicari adalah ikan teri mata biru (si mata biru) yang merupakan ikan khas daerah tersebut. 6. Identitas Budaya "Kuah Pliek U": Ikan asin Aceh Jaya merupakan bahan pelengkap wajib dalam berbagai masakan tradisional Aceh, salah satunya adalah Kuah Pliek U. 7. Daya Tahan Pangan Tradisional: Sebagai daerah pesisir, mengawetkan ikan hasil tangkapan menjadi ikan asin adalah bagian dari budaya adaptasi masyarakat, terutama untuk cadangan lauk yang tahan lama. Manfaat Konsumsi Eungkot Masen: Ikan asin juga bisa diolah menjadi beragam menu masakan lezat, mulai sambal ikan asin, pepes ikan asin, hingga gulai ikan asin. Kenikmatannya diperoleh dari rasanya yang gurih, asin, dan teksturnya yang renyah. Namun, untuk mendapatkan ikan asin goreng yang renyah sangatlah penting untuk memperhatikan cara persiapan dan menggorengnya jangan sampai hangus karena kelamaan diangkat dari kuali. Ikan asin juga memiliki manfaat bagi kesehatan seperti mencegah anemia dan mempercepat penyembuhan luka, namun meski menawarkan manfaat bagi kesehatan, terlalu banyak mengonsumsi ikan asin ternyata juga bisa berisiko yakni menimbulkan penyakit, di antaranya hipertensi, karena ikan asin memiliki kandungan garam yang tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya konsumsi ikan asin dalam porsi tidak terlalu banyak dan hindari makan makanan yang tinggi garam lainnya untuk menjaga kesehatan tubuh. Sebaiknya, pilihlah jenis ikan asin yang tidak terlalu asin dan memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan. Berikut adalah beberapa manfaat ikan asin bagi kesehatan: • Kesehatan Tulang dan Gigi: Kandungan kalsium dan fosfor yang tinggi membantu menjaga kepadatan tulang dan mencegah osteoporosis. • Mencegah Anemia: Zat besi dalam ikan asin berperan penting dalam produksi sel darah merah, yang membantu mencegah gejala kurang darah seperti lelah dan pusing. • Membangun Massa Otot: Protein yang cukup tinggi dalam ikan asin membantu memperbaiki jaringan tubuh dan mendukung pertumbuhan otot • Sumber Energi: 100 gram ikan asin kering dapat memberikan energi sekitar 193 kkal, membantu memenuhi kebutuhan energi harian. • Menjaga Kesehatan Jantung: Kandungan omega-3 membantu menurunkan kolesterol jahat dan meningkatkan kolesterol baik, menjaga jantung tetap sehat. • Meningkatkan Sistem Imun: Kandungan gizi seperti vitamin B12 dan zat besi memperkuat daya tahan tubuh. (Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/kenali-manfaat-ikan-asin-untuk-kesehatan) Proses Pengolahan Eungkot Masen Patek: 1. Pembuatan eungkot masen berasal dari ikan segar atau ikan basah yang baru ditangkap oleh nelayan gampong, ikan yang digunakan merupakan ikan dengan pilihan terbaik oleh pengrajin itu sendiri. Yaitu mulai dari ikan kecil-kecil hingga ikan yang besar jadi, tidak ditunggu saat ikannya hampir busuk baru dijadikan enungkot masen. 2. Ikan yang telah dipilih tersebut kemudain dibersihkan dan dibuang kotorannya agar bau amis dan tekstur ikan terbentuk sempurna menjadi eungkot masen. 3. Setelah itu, ikan tersebut direndam dengan air bersih kemudian ditutup dengan kain selama 5 jam agar tekstur ikan terbentuk sempurna. Setelah direndam di dalam air selama 5 jam kemudian ditiriskan selama agar air yang mengendap didalam tekstur ikan kering. 4. Setelah ditiriskan airnya langkah selanjutnya yaitu proses pelumuran ikan dengan garam hingga merata kemudian didiamkan sebentar. 5. Setelah didiamkan beberapa menit ikan yang akan diasinkan tersebut dicuci kembali untuk menghindari gumpalan garam pada tekstrur ikan baru kemudian langsung dijemur diterik matahari. 6. Setelah ikan dijemur selama 3 sampai dengan 4 hari hingga kering barulah disebut dengan eungkot masen dengan pilihan ikan diawal yang bagus serta proses pengasinan ikan yang lama maka akan emnghasilkan ikan yang lezat dan gurih. 7. Proses akhir yaitu pengemasan eungkot masen untuk dijual kepada konsumen.