Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 01 December 2025
Tahun verifikasi dan validasi : 26 February 2024
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Keterampilan / Kemahiran dan Kerajinan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Pidie
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Budee Trieng

Masyarakat Aceh dikenal identik dengan kekerasan, ini terbukti dari zaman penjajahan sampai dengan beberapa kali terjadi gejolak politik berujung dengan kekerasan yang berkepanjangan tetapi masyarakat Aceh masih tetap eksis dan berjiwa kepahlawanan. Kabupaten Pidie sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh memiliki masyarakat dengan jiwa ksatria dan berani, hal ini sudah tertanam dari jiwa pahlawan yang diwariskan oleh pendahulu. Budee Trieng (meriam bambu) bagi masyarakat Kabupaten Pidie merupakan sebuah tradisi/permainan rakyat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan merupakan tradisi yang menyenangkan walaupun mengandung resiko terutama kebisingan suaranya yang menggelegar. Terbuat dari bahan yang mudah didapat yaitu berupa pangkal bambo yang masih segar berukuran + 2 meter menjadikan Budee Trieng sangat mudah dibuat dan tidak memerlukan biaya mahal. Dalam keasliannya Budee Trieng menggunakan Premium sebagai bahan pemancing ledakan suara yang cukup keras namun akhir-akhir ini mulai dikombinasikan dengan menggunakan karbit sehingga suaranya akan lebih besar lagi dan bambo sebagai media utama digantikan dengan drum minyak yang disambung 2-3 buah sehingga menjadi lebih panjang. Tradisi Budee Trieng ini biasanya digelar menjelang datangnya lebaran Idul Fitri hingga 2 hari sesudahnya. Puncak acara tersebut pada malam takiran Idul Fitri. Kegiatan ini terinspirasi dari adanya peninggalan meriam dimasa penjajahan belanda. Tradisi Budee Trieng dalam pelaksanaan ada yang diletakkan diatas tanah langsung yang diberi sedikit lat agar lebih tinggi dan ada pula yang diletakkan diatas panggung yang dirancang dengan sengaja sehingga terlihat lebih kokoh dan bergaya. Berbekal sedikit keberanian membuat anak-anak dan para remaja bahkan orang dewasa ikut terlibat dalam tradisi ini yang digelar semalaman hingga menjelang subuh. Di Kecamatan tempat Budee Trieng digelar secara besar-besaran dimana masyarakat lainnya turut menyaksikan, biasanya dijejerkan ditempat yang saling berlawanan disisi kanan dan kiri sungai dan antar tempat lainnya. Kedua kubu ini biasanya berusaha membuat suara yang lebih keras dengan dentuman yang besar pula. Efek yang ditimbulkan dari tradisi ini ini adalah tetaknya kaca-kaca jendela bagi rumah-rumah yang agak berdekatan dengan gelaran tersebut, disamping itu juga akan beresiko bagi masyarakat yang mempunyai riwayat jantungan. Umumnya tradisi yang sudah biasanya ini terjadi atas dasar inisiatif masing-masing pribadi sehingga terakumulasi dalam satu kesatuan terkecil dalam masyarakat. Demikian juga dalam hal dana umumnya mereka saling patungan dan tidak memberatkan satu dua orang, namun tidak jarang adanya partisipasi masyarakat yang berada diperantauan ikut membantu mensuplay dana. Akhirnya tradisi tersebut terus dipelihara secara turun temurun dan berkelanjutan walaupun pada beberapa waktu sempat dilarang sehubungan dengan kondisi keamanan yang sedikit tidak kondusif. Teknik Pembuatan: Masyarakat Aceh dikenal identik dengan kekerasan, ini terbukti dari zaman penjajahan sampai dengan beberapa kali terjadi gejolak politik berujung dengan kekerasan yang berkepanjangan tetapi masyarakat Aceh masih tetap eksis dan berjiwa kepahlawanan. Kabupaten Pidie sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh memiliki masyarakat dengan jiwa ksatria dan berani, hal ini sudah tertanam dari jiwa pahlawan yang diwariskan oleh pendahulu. Budee Trieng (meriam bambu) bagi masyarakat Kabupaten Pidie merupakan sebuah tradisi/permainan rakyat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan merupakan tradisi yang menyenangkan walaupun mengandung resiko terutama kebisingan suaranya yang menggelegar. Terbuat dari bahan yang mudah didapat yaitu berupa pangkal bambo yang masih segar berukuran + 2 meter menjadikan Budee Trieng sangat mudah dibuat dan tidak memerlukan biaya mahal. Dalam keasliannya Budee Trieng menggunakan Premium sebagai bahan pemancing ledakan suara yang cukup keras namun akhir-akhir ini mulai dikombinasikan dengan menggunakan karbit sehingga suaranya akan lebih besar lagi dan bambo sebagai media utama digantikan dengan drum minyak yang disambung 2-3 buah sehingga menjadi lebih panjang. Tradisi Budee Trieng ini biasanya digelar menjelang datangnya lebaran Idul Fitri hingga 2 hari sesudahnya. Puncak acara tersebut pada malam takiran Idul Fitri. Kegiatan ini terinspirasi dari adanya peninggalan meriam dimasa penjajahan belanda. Tradisi Budee Trieng dalam pelaksanaan ada yang diletakkan diatas tanah langsung yang diberi sedikit lat agar lebih tinggi dan ada pula yang diletakkan diatas panggung yang dirancang dengan sengaja sehingga terlihat lebih kokoh dan bergaya. Berbekal sedikit keberanian membuat anak-anak dan para remaja bahkan orang dewasa ikut terlibat dalam tradisi ini yang digelar semalaman hingga menjelang subuh. Di Kecamatan tempat Budee Trieng digelar secara besar-besaran dimana masyarakat lainnya turut menyaksikan, biasanya dijejerkan ditempat yang saling berlawanan disisi kanan dan kiri sungai dan antar tempat lainnya. Kedua kubu ini biasanya berusaha membuat suara yang lebih keras dengan dentuman yang besar pula. Efek yang ditimbulkan dari tradisi ini ini adalah tetaknya kaca-kaca jendela bagi rumah-rumah yang agak berdekatan dengan gelaran tersebut, disamping itu juga akan beresiko bagi masyarakat yang mempunyai riwayat jantungan. Umumnya tradisi yang sudah biasanya ini terjadi atas dasar inisiatif masing-masing pribadi sehingga terakumulasi dalam satu kesatuan terkecil dalam masyarakat. Demikian juga dalam hal dana umumnya mereka saling patungan dan tidak memberatkan satu dua orang, namun tidak jarang adanya partisipasi masyarakat yang berada diperantauan ikut membantu mensuplay dana. Akhirnya tradisi tersebut terus dipelihara secara turun temurun dan berkelanjutan walaupun pada beberapa waktu sempat dilarang sehubungan dengan kondisi keamanan yang sedikit tidak kondusif.