| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 01 December 2025 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 23 October 2025 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Keterampilan / Kemahiran dan Kerajinan |
| Etnis | : | Aceh |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Pidie Jaya |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Alamat | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Bajee Linto Baro
Bajee Linto Baro atau sering disebut juga sebagai Bajee Meukeusah merupakan baju pada pengantin laki-laki, yang dibuat menggunakan bahan kain sutra dan dijahit dengan model terbelah dibagian depan serta terdapat kerah dibagian leher. Desain bajunya seperti jas, kemudian terdapat motif pada bagian lengan, kedua kantong, bawah dada, bagian perut dan bagian kancing dengan motif Pintoe Aceh, motif Pucok Paku dan motif Aneuk Timon, serta terdapat kantong pada sisi bawah kanan dan kiri. Pada Zaman dahulu baju ini digunakan oleh para Raja, tetapi tidak memakai motif. Namun seiring perkembangan zaman mulai digunakan untuk pengantin. Motif Pucok Paku dan Aneuk Timon terletak pada bagian leher melingkar sebanyak 3 baris.. Sedangkan motif Pintoe Acehnya terletak pada bagian dada, dibagian kancing. Bagian bawah kantong, bagian lengan ujung dan bagian saku, menggunakan motif Pucok Paku dan Aneuk Timon. Tekhnik Pembuatan 1. Pemilihan Kain Baju adat Aceh sering dibuat dari kain sutra, beludru atau bahan kain jas berwarna hitam yang mewah dan tahan lama. Beludru memberikan tampilan elegan dan cocok untuk sulaman emas. 2. Desain Sulaman Desain tradisional dibuat berdasarkan motif khas Aceh, seperti motif bunga, daun, dan pola geometris. Pola ini sering digambar terlebih dahulu pada kain sebagai panduan. 3. Penyulaman dengan Benang Emas Teknik sulam tangan (hand embroidery) digunakan untuk membuat detail yang rumit pada baju. Benang emas adalah elemen utama yang menciptakan tampilan khas dan elegan. 4. Pengerjaan Manual Pengerjaan dilakukan secara manual oleh pengrajin yang berpengalaman, memastikan setiap detail sulaman tampak rapi dan simetris. 5. Teknik Bordir Mesin (Modern) Untuk produksi massal atau menghemat waktu, pengrajin dapat menggunakan mesin bordir. Pola dibuat secara digital, kemudian diterapkan menggunakan mesin bordir otomatis. Hasil bordir lebih seragam, namun tidak memiliki keunikan dan kehalusan seperti sulaman tangan. 6. Pemasangan Kancing Tradisional Kancing berwarna emas atau berornamen khusus sering digunakan untuk menambah estetika pada baju. 7. Penyelesaian dan Pengawasan Setelah selesai, baju diperiksa untuk memastikan kualitas tinggi dan tidak ada cacat pada sulaman atau jahitan. Tempat Penggunaan: 1. Balai adat atau meunasah. Tempat-tempat khusus untuk pelaksanaan upacara adat atau keagamaan. 2. Rumah pengantin. Pada hari pernikahan, baju ini dipakai di lokasi acara pernikahan tradisional. 3. Panggung budaya atau festival. Dikenakan dalam acara seni dan budaya untuk melestarikan tradisi Aceh. 4. Masjid atau tempat ibadah. Jika digunakan dalam rangka acara keagamaan. Waktu Penggunaan: 1. Pernikahan adat Aceh. Dikenakan pada acara resepsi atau prosesi adat pernikahan, terutama oleh pengantin pria. 2. Upacara adat atau keagamaan. Seperti upacara peringatan hari besar Islam (Maulid Nabi, Hari Raya). 3. Acara resmi budaya. Digunakan pada acara resmi yang mempromosikan budaya Aceh, seperti festival budaya atau pertunjukan seni tradisional.