| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | 13 June 2026 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 03 March 2026 |
| Entitas kebudayaan | : | OPK |
| Kategori | : | Bahasa |
| Etnis yang Menggunakan | : | Aceh |
| Jenis Aksara | : | Alfabet Latin |
| Nama Dialek | : | Bahasa Lekon |
WBTb
Nama Lainnya : Bahasa Lekon
Bahasa Lekon di Simeulue Bahasa merupakan salah satu wujud karya budaya paling penting yang lahir dari perjalanan panjang kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jugawadah identitas, ingatan kolektif, dan nilai-nilai sosial yang melekat dalam keseharian penuturnya. Di antara keragaman bahasa di Nusantara terutama di Aceh Khususnya Simeulue, terdapat satu bahasa kecil yang tumbuh di pulau terpencil barat Aceh, yakni bahasa Lekon, yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Langi dan Desa Lafakha, Kecamatan Alafan, Kabupaten Simeulue. Meski jumlah penuturnya kini sangat sedikit, bahasa Lekon menyimpan kisah budaya yang kaya dan layak diangkat sebagai salah satu karya budaya masyarakat Simeulue. 1. Aspek Kesejarahan Bahasa Lekon ada dan berkembang di wilayah barat Pulau Simeulue, yang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai pengaruh kebudayaan dari daratan Aceh, Nias, dan Sumatra Barat. Menurut cerita masyarakat setempat, bahasa ini telah digunakan secara turun-temurun jauh sebelum masa kolonial akan tetapi tidak tahu percis tahun berapa mulai ada bahasa ini. Hubungan antar desa di Simeulue memang terjalin kuat, namun tiap wilayah mengembangkan bahasa lokalnya sendiri. Selain Leukon, terdapat pula bahasa Devayan, Sigulai, Simolol, dan Leukon yang menunjukkan adanya diferensiasi budaya antarwilayah di pulau tersebut. Bahasa Lekon menjadi saksi hidup tentang perjalanan sejarah masyarakat pesisir Simeulue yang selama berabad-abad bertahan dengan tradisi maritimnya. Ia merekam cara berpikir, sistem kepercayaan, dan hubungan manusia dengan alam di sekitarnya sesuatu yang tidak selalu tercatat dalam sejarah tertulis. 2. Aspek Sosial dan Identitas Secara sosial, bahasa Lekon bukan hanya alat komunikasi, melainkan simbol kebanggaan komunitas kecil di Langi dan Lafakha. Di tengah perkembangan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional, serta pengaruh Devayan dan Bahasa Jame. masyarakat Lekon masih berusaha mempertahankan bahasanya sebagai penanda identitas mereka. Bahasa ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di rumah, dalam kegiatan adat. Dalam interaksi sosial, bahasa Lekon menjadi pembeda antara orang Lekon dengan kelompok lain di Simeulue. Ia menjadi semacam batas kultural yang halus namun bermakna. Misalnya, dalam acara gotong royong, pesta adat, atau musyawarah desa, penutur Lekon akan menggunakan bahasanya sendiri untuk menegaskan kedekatan dan rasa kebersamaan. Nilai solidaritas itu tumbuh dari bahasa; karena berbicara dalam Lekon berarti menjadi bagian dari keluarga besar yang sama. Namun kini, tantangan besar muncul. Penutur muda lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia di sekolah dan dalam media sosial. Penggunaan bahasa Lekon mulai terbatas di kalangan orang tua. Akibatnya, bahasa ini terancam punah. Hilangnya bahasa tidak hanya berarti hilangnya kata-kata, tapi juga hilangnya cara pandang dunia hilangnya tradisi tutur, dan cerita rakyat yang selama ini diwariskan secara lisan. Dalam konteks ini, bahasa Lekon adalah cermin dari dinamika sosial dan tantangan pelestarian budaya lokal di era modern.