| Tingkatan Data | : | Provinsi |
| Tahun pendataan | : | 1999 |
| Tahun Verifikasi dan Validasi | : | 1999 |
| Tahun penetapan | : | 2023 |
| Entitas kebudayaan | : | ODCB |
| Kategori | : | Situs |
| Nama ODCB/CB di lapangan | : | - |
| Sifat Situs | : | - |
| Periode Situs | : | - |
| Kelompok Situs | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | Kota Banda Aceh |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Kelurahan | : | - |
| Alamat | : | Jl. Sultan Alaidin Mahmudsyah, Gampong Peuniti Kec. Baiturrahman |
| Latitude | : | 5 ͦ 33’55.28”N 95 ͦ 19’14.29”E |
| Longitude | : | 5 ͦ 33’55.28”N 95 ͦ 19’14.29”E |
| Ketinggian (mdpl) | : | - |
| Panjang | : | - |
| Lebar | : | - |
| Luas Tanah | : | 275 m² |
| Keutuhan | : | Utuh |
| Pemeliharaan | : | Terpelihara |
| Riwayat Pemugaran | : | Belum Pernah Dipugar |
| Riwayat Adaptasi | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | - |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Status kepemilikan | : | Negara |
| Nama pemilik | : | - |
| Status perolehan | : | - |
| Alamat | : | - |
| Latitude | : | - |
| Longitude | : | - |
| Status Pengelolaan | : | Pemerintah Aceh |
| Batas Zona Utara | : | - |
| Batas Zona Selatan | : | - |
| Batas Zona Barat | : | - |
| Batas Zona Timur | : | - |
Situs
Nama Lainnya : Rumoh Aceh Museum Aceh
SK PENETAPAN No.014/M/1999 Tgl. 12-01-1999 Bangunan ini menunjukkan ciri khas Rumah Tradisional Aceh. Pada tahun 1980 Rumah ini diresmikan sebagai Museum Negeri Aceh. Museum Aceh berusia 100 tahun lebih, didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H. N. A. Swart pada 31 Juli 1915 waktu itu bangunannya berupa Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh).Bangunan ini berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di area pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada 13 Agustus - 15 November 1914. Setelah Indonesia merdeka, operasional Museum Aceh secara bergantian dikelola oleh Pemerintah Daerah Tk.II Banda Aceh (1945 - 1969). Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Tahun 1970 - 1975. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1975 - 2002) dan saat ini pengelola Museum Aceh menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 10 Tahun 2002 tanggal 2 Februari 2002, status Museum Aceh menjadi UPTD Museum Provinsi Aceh dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Sampai tahun 2019, Museum Aceh memiliki 5.328 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan 12.445 buku dari berbagai judul yang berisi aneka macam ilmu pengetahuan. Secara historis, Museum Rumoh Aceh yang berada di dalam kompleks Museum Aceh di Banda Aceh berawal dari paviliun Aceh yang memenangkan penghargaan pada Pameran Kolonial di Semarang pada tahun 1914. Setelah pameran selesai, paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan Museum Aceh. Pada tahun 1914, pemerintah Hindia Belanda mengadakan Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonstelling) di Semarang. Paviliun Aceh menampilkan koleksi benda-benda budaya milik F.W. Stammeshaus, seorang kurator Belanda yang mengumpulkan banyak artefak dari Aceh. Paviliun Aceh sukses besar dalam pameran tersebut dan mendapatkan penghargaan sebagai yang terbaik. F.W. Stammeshaus mengusulkan agar paviliun tersebut tidak dibongkar, melainkan dikembalikan ke Aceh untuk dijadikan museum. Museum Aceh didirikan dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Belanda Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915, dengan nama Atjeh Museum. Bangunan awalnya hanyalah Rumoh Aceh yang pernah dipamerkan tersebut. Museum ini awalnya berlokasi di timur Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.Setelah kemerdekaan, pemerintah daerah Aceh mengambil alih pengelolaan museum pada tahun 1969. Atas prakarsa Brigadir Jenderal T. Hamzah Bendahara, museum dipindahkan ke lokasinya yang sekarang di Jalan Sultan Mahmudsyah, Peuniti. Pada tahun 1980, Rumah Aceh tersebut diresmikan sebagai Museum Negeri Aceh, yang kini dikenal sebagai Museum Aceh. Seiring waktu, kompleks museum diperluas dengan penambahan beberapa gedung lain, seperti ruang pamer tetap dan ruang pamer temporer, namun Rumoh Aceh tetap menjadi bagian inti dan simbol museum. Di dalam kompleks ini juga terdapat makam raja-raja Aceh dan Lonceng Cakra Donya.