| Tingkatan Data | : | Kabupaten |
| Tahun pendataan | : | - |
| Tahun Verifikasi dan Validasi | : | - |
| Tahun penetapan | : | 2020 |
| Entitas kebudayaan | : | ODCB |
| Kategori | : | Kawasan |
| Nama ODCB/CB di lapangan | : | - |
| Sifat Kawasan | : | - |
| Periode Kawasan | : | - |
| Fungsi Kawasan | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Aceh Tamiang |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Kelurahan | : | - |
| Alamat | : | Pusat Kota Kualasimpang |
| Latitude | : | - |
| Longitude | : | - |
| Ketinggian (mdpl) | : | - |
| Luas Kawasan | : | ± 2 km2 |
| Keutuhan | : | - |
| Pemeliharaan | : | - |
| Riwayat Pemugaran | : | - |
| Riwayat Adaptasi | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | - |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Status kepemilikan | : | Pemerintah |
| Nama pemilik | : | - |
| Status perolehan | : | - |
| Alamat | : | - |
| Latitude | : | - |
| Longitude | : | - |
| Status Pengelolaan | : | - |
| Batas Zona Utara | : | - |
| Batas Zona Selatan | : | - |
| Batas Zona Barat | : | - |
| Batas Zona Timur | : | - |
Kawasan
Nama Lainnya : Pertokoan Lama
Bangunan ini menggambarkan sistem perdagangan diwilayah Kota Kualasimpang sekitar tahun 1950-an, telah terkoordinir dan berkembang cukup pesat. Kompleks pertokoan lama di Aceh Tamiang, yang umumnya merujuk pada kawasan pertokoan di Kota Kuala Simpang, memiliki sejarah yang terkait erat dengan perkembangan ekonomi di wilayah tersebut pada masa kolonial Belanda dan pascakemerdekaan. Berikut adalah beberapa aspek utama dari sejarah kompleks pertokoan lama di Aceh Tamiang: Masa kolonial Belanda Pusat perdagangan: Pada masa penjajahan Belanda, Kuala Simpang menjadi pusat perdagangan penting di wilayah Aceh Tamiang. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor perkebunan, seperti perkebunan karet dan kelapa sawit, yang didirikan oleh Belanda. Pengaruh arsitektur: Bangunan-bangunan pertokoan didirikan dengan sentuhan arsitektur kolonial, mirip dengan yang dapat ditemukan di kawasan perdagangan lama lainnya di Indonesia. Arsitektur ini mencerminkan periode ketika Kuala Simpang menjadi pusat aktivitas ekonomi. Fasilitas pendukung: Selain pertokoan, Belanda juga membangun infrastruktur pendukung, termasuk pabrik-pabrik pengolahan hasil perkebunan, yang semakin mengukuhkan Kuala Simpang sebagai kota dagang yang strategis. Setelah kemerdekaan Pewaris niaga: Setelah kemerdekaan, kompleks pertokoan lama ini terus berfungsi sebagai pusat niaga utama bagi masyarakat Aceh Tamiang. Generasi penerus meneruskan kegiatan usaha di bangunan-bangunan yang telah ada. Pusat aktivitas: Selain sebagai tempat berbelanja, kompleks ini juga menjadi pusat aktivitas sosial bagi warga. Interaksi antar pedagang dan pembeli menciptakan suasana pasar yang hidup dan dinamis. Ikon budaya: Bangunan-bangunan pertokoan lama ini, dengan arsitekturnya yang khas, menjadi bagian penting dari identitas kota dan berfungsi sebagai penanda sejarah bagi warga lokal. Tantangan modernisasi Perubahan zaman: Seiring perkembangan zaman dan munculnya pusat perbelanjaan yang lebih modern, kompleks pertokoan lama menghadapi tantangan dalam mempertahankan daya tariknya. Beberapa toko mungkin tidak seaktif dulu, tetapi kawasan ini tetap memiliki nilai historis yang kuat. Upaya pelestarian: Penting untuk melestarikan kompleks pertokoan lama ini sebagai cagar budaya, mengingat peranannya dalam membentuk sejarah ekonomi dan sosial Aceh Tamiang. Secara ringkas, kompleks pertokoan lama di Aceh Tamiang, khususnya di Kuala Simpang, bukan hanya sekadar deretan toko, tetapi juga saksi bisu perkembangan ekonomi dan sosial dari masa kolonial hingga modern.