Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2020
Tahun penetapan : 2020
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : H934+7PQ, Jl. Mesjid Tuha, Iemasen Ulee Kareng, Kec. Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh 24411
Latitude : 5.553214975825712
Longitude : 95.3489686416502
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 425 m²

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Disdikbud Kota Banda Aceh
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Mesjid Tuha Ulee Kareng

Mesjid Tuha Ulee Kareng berada di wilayah Ie Masen Uleu Karang Kecamatan Ulee Karang Kota Banda Aceh. Mesjid Tuha Uleu Kareng di bangun oleh Said Abdulrahman Al Mahali, seorang ulama dari Arab yang datang ke wilayah Ulee Kareng bersama anaknya Said Husni untuk mengajarkan Islam di kawasan tersebut pada Abad ke 19 M menurut ahli waris Meuseujid Tuha Ulee Kareng telah berusia lebih dari 200 Tahun. Masjid Tuha Ulee Kareng adalah salah satu masjid tertua di Kota Banda Aceh dan menjadi saksi bisu perkembangan Islam di wilayah tersebut. Dibangun sekitar abad ke-18 atau sekitar tahun 1826, masjid ini didirikan oleh seorang ulama keturunan Arab dari Yaman bernama Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali, atau yang dikenal dengan Habib Kuala Bak U.  Masjid ini dibangun pada masa penjajahan Belanda di Aceh, sebagai pusat penyebaran syiar Islam. Habib Kuala Bak U datang ke wilayah tersebut untuk mengajarkan agama, dan dari sinilah ajaran Islam menyebar luas ke seluruh Kecamatan Ulee Kareng. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat pendidikan Islam bagi masyarakat setempat. Bangunan masjid memiliki ciri khas arsitektur tradisional, seperti atap bertingkat dua yang ditopang oleh 12 tiang kayu. Ukiran kaligrafi kuno yang berisi doa, ayat Al-Qur'an, dan kalimat syahadat juga terdapat di dalam masjid.Meskipun sebagian bangunan telah direnovasi, seperti penggantian atap rumbia menjadi seng, masjid ini tetap mempertahankan keaslian sejarahnya. Warga setempat sangat menjaga keaslian masjid ini dan bahkan menolak renovasi besar-besaran untuk menjaga nilai sejarahnya. Masjid Tuha Ulee Kareng telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya, menegaskan pentingnya nilai sejarah dan budayanya.Di sekitar area masjid, terdapat makam para ulama dan tokoh penting pada masanya, termasuk makam Teuku Meurah Lamgapang dan Habib Kuala Bak U, pendiri masjid. Hingga saat ini, masjid ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah, pengajian anak-anak dan ibu-ibu, serta tempat singgah bagi warga yang ingin merasakan nuansa sejarah keislaman yang kental.