Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : 2017
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Benda

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Produk : -
Periode Produk : -
Kelompok Produk : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Timur
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Desa Blang Balok, Kecamatan Peureulak Kota, Kabupaten Aceh Timur
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Fisik

Bahan : -
Satuan waktu pembuatan : -
Periode waktu pembuatan : -
Waktu Pembuatan : -
Tanda yang Dimiliki : -
Warna : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Tinggi : -
Tebal : -
Berat : -
Volume : -
Diameter Atas : -
Diameter Badan : -
Diameter Kaki : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : -
Pemeliharaan : -
Pemugaran : -
Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Wakaf
Nama pemilik : Wakaf
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Deskripsi Singkat

Benda

Nama Lainnya : Meriam Turki

Meriam ini diberikan oleh Kesultanan Utsmani setelah delegasi Aceh menghadap Sultan Selim II dan hanya memiliki secupak (segenggam) lada untuk dihadiahkan, sehingga meriam itu dinamai Meriam Lada Sicupak. Meriam Lada Secupak yang diberi dari negara Turki oleh sepuluh tentera Kerajaan Acheh di bawah Komando Panglima Nyak Dum. Yang dinamakan Lada Secupak itu ialah pada tanggal 15 Januari 1976 meriam itu ditemui kembali oleh Almarhum Tok Muhammad Ben yang tertanam di dalam tanah. pada tahun 1989 dibawa ke PKA di Banda Aceh. Pemberian ini merupakan bagian dari aliansi militer dan persahabatan antara Aceh dan Turki, di mana Aceh membutuhkan bantuan untuk melawan Portugis dan kemudian Belanda. Selain meriam, Turki juga mengirimkan ahli-ahli militer dan pelayaran untuk memperkuat pertahanan Aceh. Meriam ini ditemukan kembali di tanah di Gampong Blang Balok, Aceh Timur, sekitar akhir tahun 1990-an, setelah ditinggalkan oleh pejuang Aceh saat perang melawan Belanda. Meriam ini menjadi simbol penting hubungan sejarah antara Aceh dan Turki, serta bukti perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah. Belanda merampas banyak meriam dari istana Aceh yang ditinggalkan, dan sebagian kini dipajang di museum Belanda sebagai bukti kemenangan, sementara Meriam Lada Sicupak tetap berada di Aceh.