Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 2024
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2024
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : F8VG+WMF, Leu Geu, Darul Imarah, Aceh Besar Regency, Aceh 23234
Latitude : 5.496681385286778
Longitude : 95.3345547226975
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : -
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Milik Negara
Nama pemilik : Milik Negara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Tgk. Chik Kuta Karang

seorang ahli ilmu astrologi,pejuang,dan ahli pengobatan pada pertengahan abad ke- 19. Teungku Chik Kuta Karang, yang memiliki nama asli Teungku Syekh Abbas, adalah seorang ulama kharismatik, pejuang, ahli ilmu falak (astrologi), dan ahli pengobatan terkemuka di Aceh pada pertengahan abad ke-19. Ia dikenal karena perannya yang signifikan dalam perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda.  Selama Perang Aceh berkecamuk, Teungku Chik Kuta Karang memainkan beberapa peran penting yaitu Penasihat Militer, Ia bersama Teungku Chik Tanoh Abee dan ulama lainnya, menjadi penasihat utama bagi tokoh perlawanan Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman. Keahliannya dalam ilmu falak sangat membantu dalam pemetaan medan perang dan penyusunan strategi perang gerilya. Pengobar Semangat Jihad: Ia aktif mengarang hikayat atau syair yang membangkitkan semangat perang dan jihad fi sabilillah di kalangan rakyat Aceh. Hikayat-hikayat ini sangat populer dan sering dibacakan di meunasah-meunasah (langgar/mushola) pada malam hari, menjaga semangat perlawanan tetap menyala. Kadi Malikul Adil: Pada masa kepemimpinan Sultan Alaidin Ibrahim Mansyur Syah (sekitar 1857-1870), ia menjabat sebagai Kadi Malikul Adil, suatu posisi penting dalam struktur pemerintahan Aceh yang menunjukkan pengaruh dan kedudukannya yang tinggi di mata Kesultanan dan rakyat.  Sebagai seorang intelektual dan pejuang, Teungku Chik Kuta Karang meninggalkan warisan yang mendalam bagi Aceh yaitu Keilmuan Multidisipliner: Ia dikenal sebagai ilmuwan multidisipliner yang menguasai ilmu agama, ilmu falak, dan pengobatan tradisional, menjadikannya rujukan penting bagi masyarakat Aceh pada masanya. Simbol Perlawanan: Kisah hidup dan perjuangannya menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya dalam mempertahankan marwah dan kedaulatan Aceh dari upaya penjajahan asing. Peninggalan Fisik: Salah satu peninggalan yang masih ada adalah masjid di Kuta Karang yang konon tidak dibakar oleh Belanda karena dihormati atau karena alasan strategis lainnya. Makamnya juga menjadi situs cagar budaya yang diziarahi hingga kini.  Secara keseluruhan, Teungku Chik Kuta Karang adalah sosok ulama-pejuang yang mengintegrasikan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum untuk kepentingan perjuangan rakyat Aceh.