Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2024
Tahun penetapan : 2024
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : HCJ3+3X8, Krueng Kalee, Darussalam, Aceh Besar Regency, Aceh 23373
Latitude : 5.578789491391123
Longitude : 95.4167477744004
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : -
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Milik Negara
Nama pemilik : Milik Negara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : Milik Negara

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Tgk Chik. Krueng Kalee

Teungku Haji Hasan Krueng Kale (juga dikenal sebagai Abu Hasan Krueng Kalee) adalah seorang ulama besar karismatik dan tokoh pendidikan terkemuka asal Aceh yang hidup pada abad ke-19 dan ke-20.  Lahir tanggal  17 April 1886 (atau 1873 menurut beberapa sumber) di desa Meunasah Ketembu/Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Aceh dan Wafat tanggal 19 Januari 1973, dan dimakamkan di Kompleks Dayah Darul Ihsan di kampung Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Tgk Hasan Krueng Kale dikenal sebagai sosok pelopor pendidikan di Aceh dan Nusantara. Ia memulai pendidikan agama di bawah asuhan ayahnya sendiri, Tgk. Muhammad Hanafiyah (Teungku Haji Muda), dan kemudian belajar di Dayah Tgk. Chik di Keubok. Ia sempat mengenyam pendidikan di Yan, Malaysia, sebelum melanjutkan studi ke Makkah selama sekitar tujuh tahun, di mana ia belajar dari ulama-ulama tersohor dan mendapatkan gelar ulama. Sekembalinya ke Aceh, ia membeli tanah dan mendirikan pesantren yang kemudian berkembang pesat menjadi Dayah Darul Ihsan, sebuah institusi pendidikan Islam yang prestisius hingga kini. Kesehariannya didedikasikan untuk pendidikan umat. Banyak muridnya kemudian menjadi pimpinan pesantren besar di berbagai daerah di Aceh, termasuk Abu Daud Beureueh. Ia juga aktif dalam organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan pernah menjadi anggota Konstituante di Jakarta. Pada masa pemberontakan, ia tetap mengabdikan diri untuk mengajar mengaji kepada murid-muridnya, bahkan di masa-masa sulit.  Hingga saat ini, Dayah Darul Ihsan terus beroperasi di bawah kepemimpinan cucu-cucunya, melanjutkan warisan dan perjuangan Tgk Hasan Krueng Kale dalam pendidikan Islam di Aceh. Makam Tgk. Chik Krueng Kalee merupakan situs sejarah penting di Aceh yang menjadi tempat persemayaman terakhir Abu Hasan Krueng Kalee (1884–1973), seorang ulama kharismatik, pejuang, dan tokoh pendidikan Aceh yang sangat berpengaruh. Nama asli beliau adalah Teungku Haji Hasan, namun lebih dikenal dengan sebutan Abu Hasan Krueng Kalee atau Tgk. Chik Krueng Kalee. Beliau lahir di desa Menasa Ketumbu, Kabupaten Pidie, pada tanggal 17 April 1886, dan wafat pada 19 Januari 1973. Perjalanan hidupnya diisi dengan menuntut ilmu agama di berbagai tempat, termasuk di Yan, Malaysia, dan bahkan di Mekkah, Arab Saudi, selama sekitar tujuh tahun. Setelah kembali ke Aceh, beliau mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan dan perjuangan. Tgk. Chik Krueng Kalee dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam di Aceh pasca Perang Aceh melawan Belanda. Peran utamanya adalah Beliau mendirikan pesantren yang kemudian dikenal sebagai Dayah Darul Ihsan di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Dayah ini berkembang pesat dan melahirkan banyak ulama terkemuka di Aceh. Beliau aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan memiliki pengaruh politik yang kuat pada masa sebelum dan awal kemerdekaan. Beliau juga pernah menjadi anggota Konstituante di Jakarta, menunjukkan pengaruhnya di tingkat nasional. Makam Tgk. Chik Krueng Kalee terletak di dalam kompleks Dayah Darul Ihsan, Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Kompleks makam dan zawiyah (tempat suluk/ibadah) ini merupakan situs cagar budaya yang terawat dan sering diziarahi oleh masyarakat serta santri Dayah Darul Ihsan, yang kini dipimpin oleh cucu-cucu beliau. Makamnya menjadi simbol penghormatan atas jasa-jasa dan warisan keilmuan beliau yang mendalam di Aceh.