Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 2024
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2024
Tahun penetapan : 2024
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : Campuran
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Gp. Glee Iniem Kec. Darussalam, Kab. Aceh Besar
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : -
Riwayat Pemugaran : -
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Milik Negara
Nama pemilik : Negara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Tgk. Chik Glee Iniem

Tengku Glee Iniem meninggal pada tanggal 6 Juni 1926 pada umur 63 tahun, tidak diketahui nama asli beliau, namun masyarakat setempat memangillnya Tengku Haji Cek, ayahnya bernama Haji Puteh, kakeknya bernama Tengku Umar dari Negeri Yaman. Tengku Glee Iniem adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, mungkin karena beliau anak bungsu, maka dipanggil Cek dalam bahasa Aceh "Cek" merupakan paman. Tengku Glee Iniem, tidak pernah menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan, beliau juga tidak pernah membuka pesantren/dayah sehingga tidak ada murid/pengikut, dan beliau juga tidak pernah mengagaji/meudagang sehingga tidak ada guru, beliau juga tidak pernah mengarang kitab sehingga tidak ada ajaran dan tarekatnya. Lalu apa kelebihan atau karamah beliau, sehingga makamya selalu diziarah orang? Berdasarkan cerita cicit dari saudara kandung beliau, Tengku Muhammad Nawi, bahwa Tengku Glee Iniem mempunyai beberapa karamah, diantaranya; Beliau tidak pernah basah bila berjalan pada saat hari sedang hujan.Tumbuh rumput nan hijau ditempat yang beliau tunjuk, untuk kebutuhan bagi pencari rumput pada musim kemarau tiba. Beliau terkesan membuang air disembarang tempat, lalu masyarakat keberatan dan menyebut tidak ada air, maka langsung beliau ambil air di sampingnya dan disiramkan, padahal di situ sebelumnya tidak ada air.Jika ada anak-anak yang bertamu atau ketemu dijalan, maka beliau selalu berikan uang, padahal beliau lagi tidak ada uang dikantong. Jika ada tamu, atau beliau ingin suatu makanan/masakan, beliau selalu meminta tamunya untuk mengambilnya di meja, padahal tidak ada juru masak, dan beliau juga tidak pernah menikah. Beliau sangat senang jalan-jalan ke makam Syiah Kuala di Alue Naga, kadang-kadang ke Kampung Pande atau ke Ulee Lheee sekarang, beliau sering menunggang kuda putih dan selalu berjalan lurus, beliau perintahkan joki sado untuk selalu melihat ke depan, jangan pernah menoleh ke belakang. Suatu ketika sang joki ingin tau apa yang terjadi dibelakang, ternyata ketika kuda berjalan, maka dibelakang itu adalah hutan belantara, atau sungai yang berbahaya, atau lautan. Makam beliau selalu dijaga oleh harimau putih dan itu diceritakan oleh penziarah atau masyarakat setempat pernah melihatnya. Jika ada orang yang khianat kepada beliau, maka yang bersangkutan selalu ditimpa musibah. Pernah ada oknum masyarakat membakar kandang kerbau di komplek makam, maka rumah yang bersangkutan juga terbakar, pada saat yang bersamaan, dan itu nyata ada buktinya. Satu-satunya sahabat beliau yang sangat dekat adalah Tengku Hasan Krueng Kalee, beliau adalah sahabat sekampung, ketika Tengku Hasan Krueng Kalee berada di tanah haram, maka disana juga terlihat ada Tengku Gle Iniem yang sedang thawaf. Ketika Tengku Hasan Krueng Kalee berobat di Kuala Lumpur, disana juga terlihat Tengku Gle Iniem sedang berdo,a. ini cerita alm. Tengku Hasan Krueng Kalee kepada kerabat beliau atas karamahnya Tengku Gle Iniem.