Loading

Makam Teuku Muhammad Daudsyah / T.Nja' Daeod Bergelar Panglima Moeda Setia

No. Reg. Tanggal 14 Juni 2021/Nomor 432/383/2021 Status ODCB

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2021
Tahun penetapan : 2021
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Sabang
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Gampong Balohan, Kec. Sukajaya Kota Sabang
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 87,4 M2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : -
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Pemerintah Kota Sabang
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Teuku Muhammad Daudsyah / T.Nja' Daeod Bergelar Panglima Moeda Setia

Makam ini adalah milik T.Nja' Daoed bergelar panglima Moeda Setia. Ayahnya T. Miroeh Abdoel Wahid, lajir di Lamtjabung (Lamnga) di Pulau Weh. Diangkat oleh Sultah Ibrahim (1823) s/d 1836) sebagai uleebalang mukim Balohan yang terletak di teluk bernama. Jadi T. Miroeh adalah kepala hukum pertama Balohan dengan putra tertuanya, T. Lamkota Nja' Hamsah, yang kedua adalah T. Nja' Daoed. T. Lamkota Nja' Hamsah meninggal tanpa keturunan laki-laki sehingga pewaris selanjutnya dan menjadi kepala hukum kedua di Balohan adalah T. Nja' Daoed bergelar panglima. Makam yang terletak di Sabang itu adalah milik Teuku Nja' Daoed, yang bergelar Panglima Moeda Setia. Ia merupakan sosok pejuang yang berperan penting dalam sejarah Aceh, khususnya di wilayah Pulau Weh. Ia adalah keturunan seorang kepala hukum (uleebalang) di sana.  Teuku Nja' Daoed dikenal juga dengan nama Teuku Muhammad Daudsyah. Ia merupakan putra dari Teuku Miroeh Abdoel Wahid, seorang uleebalang yang menjabat di mukim Balohan, Pulau Weh, pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1823-1836). Gelar "Panglima Moeda Setia" yang disematkan kepadanya menunjukkan peran dan pengabdiannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ayahnya, Teuku Miroeh Abdoel Wahid, lahir di Lamtjabung (Lamnga), yang juga terletak di Pulau Weh. Teuku Miroeh merupakan kepala hukum pertama yang diangkat untuk mukim Balohan. Penting untuk membedakan Teuku Nja' Daoed ini dengan Sultan terakhir Aceh, Sultan Muhammad Daud Syah II. Meskipun memiliki nama yang mirip, mereka adalah dua tokoh yang berbeda. Sultan Muhammad Daud Syah II meninggal di pengasingan di Batavia dan makamnya berada di TPU Utan Kayu, Jakarta. Makam Teuku Nja' Daoed menjadi salah satu situs sejarah penting di Sabang yang mengenang jasa para pejuang Aceh.