Loading

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : 2019
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : H8C7+FH6, Gampong Pande, Kec. Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Aceh
Latitude : 5.568947410439889
Longitude : 95.33019729581922
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 1.010M2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : Pemerintah Aceh / BPCB Aceh

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Tuan di kandang

Komplek Makam Tuan Dikandang di Gampong Pande, Banda Aceh, merupakan situs sejarah penting yang menjadi saksi bisu peradaban Islam di Aceh pada abad ke-13. Makam ini diyakini sebagai peristirahatan Tuan Dikandang, ulama besar dan penggagas Kerajaan Aceh, yang merupakan ayah dari para sultan Aceh di masa lalu. Keberadaan makamnya, yang hanya ia yang diberi atap di tengah puluhan nisan kuno lainnya, menunjukkan statusnya yang istimewa dan mulia.  Tuan Dikandang dipercaya bernama asli Syekh Abdurrauf Al-Baghdadi atau Machmud Abi Abdullah. Ia adalah keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain dari Turki dan melarikan diri ke Aceh bersama 500 pengikutnya dari Baghdad, Irak, pada masa Bani Abbasiyah. Ia juga dikenal sebagai seorang ulama yang jujur dan diangkat menjadi penasihat Kerajaan Sultan Alaidin Johansyah, sehingga dijuluki Tuan Di Kandang.  Kedatangannya ke Aceh menjadi tonggak sejarah penyebaran Islam dan pembentukan Kerajaan Aceh pada abad ke-13. Ia juga dipercaya membawa peradaban baru bagi penduduk Gampong Pande yang saat itu masih memeluk agama Hindu.  Makam Tuan Dikandang terletak di tengah-tengah Komplek makam dengan puluhan nisan kuno lainnya. Hanya makamnya yang diberi atap, yang menandakan ia adalah sosok yang paling mulia di antara makam-makam lain yang ada di sana.  Komplek ini berada di Gampong Pande, yang menjadi kawasan penting karena menjadi cikal bakal Kota Banda Aceh (dahulu Kutaraja). Kawasan ini juga menjadi tempat dimakamkannya raja-raja Kesultanan Aceh Darussalam, seperti Sultan Alaudin Mahmudah dan Sultan Alaidin Jauhar Shah, serta kerabat kerajaan lainnya.  Banyak nisan di Komplek ini yang memiliki ukiran kaligrafi Al-Qur'an, yang menjadi bukti keberadaan Islam di Aceh pada masa lampau. Beberapa nisan, seperti milik Sultan Firman Syah, memberikan informasi berharga tentang sejarah kota, seperti pendirian Gampong Pande pada hari Jumat, 1 Ramadhan tahun 610 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.