Loading

Komplek Makam Sultanah Nahrisyah

No. Reg. PO2014120200001 Status ODCB

Informasi ODCB

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 2014
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2014
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Utara
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : 46J3+WCM, Beuringen, Kec. Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Aceh 24391
Latitude : 5.092357789452776
Longitude : 97.42169797348568
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 6815 M2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : -
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Pemda Aceh Utara
Nama pemilik : Pemda Aceh Utara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Sultanah Nahrisyah

1416 - 1428 M, Raja pada masa Kerajaan Samudera Pasai . Sebagaimana diketahui, Sulthanah Nahrisyah merupakan tokoh pemimpin wanita yang masyhur di Kerajaan Samudera - Pasai. la mangkat pada hari Senin tanggal 17 Zulhijjah tahun 831 Hijriah atau 1428 Masehi. Sultanah Nahrasiyah adalah tokoh penting dalam sejarah Islam di Asia Tenggara, dikenal sebagai salah satu penguasa perempuan Islam pertama di kawasan tersebut, yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-14 dan ke-15 Masehi. Ia memerintah setelah kemangkatan Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir, ayahnya.  Sultanah Nahrasiyah memerintah Kesultanan Samudera Pasai, yang berlokasi di pesisir utara Sumatera (sekarang Aceh Utara), setelah tahun 1405 M, hingga wafatnya pada tahun 1428 M.Keberadaannya sebagai seorang sultanah (penguasa perempuan) pada masa itu menjadikannya sosok yang luar biasa dan pionir dalam sejarah kepemimpinan Islam di Nusantara, menunjukkan adanya peran signifikan perempuan dalam struktur kekuasaan kerajaan Islam awal. Di bawah kepemimpinannya, Samudera Pasai berhasil mengembalikan kejayaannya sebagai pusat syiar Islam terbesar dan pusat perdagangan internasional setelah sempat mengalami kemunduran akibat serangan dari Majapahit. Perekonomian kerajaan sangat berpengaruh di kawasan Selat Malaka pada masanya. Ia menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan pihak luar, termasuk menerima kunjungan laksamana Tiongkok, Laksamana Cheng Ho, yang singgah di Samudera Pasai dalam ekspedisi maritimnya. Peninggalan fisik yang paling terkenal dari Sultanah Nahrasiyah adalah makamnya yang terletak di kompleks pemakaman raja-raja Samudera Pasai di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Makam ini memiliki corak Islam khas Gujarat yang indah dan merupakan salah satu bukti bertulis dari masa penyebaran Islam di Nusantara. Nisan makamnya memiliki inskripsi kaligrafi Arab yang mengukuhkan identitas dan tahun wafatnya.  Sultanah Nahrasiyah dikenang sebagai pemimpin yang arif, bijak, dan kuat yang berhasil membawa kemakmuran bagi kerajaannya dan memperkuat pondasi Islam di Asia Tenggara.