| Tingkatan Data | : | Menteri |
| Tahun pendataan | : | - |
| Tahun Verifikasi dan Validasi | : | - |
| Tahun penetapan | : | 1970-01-01 |
| Entitas kebudayaan | : | CB |
| Kategori | : | Situs |
| Nama ODCB/CB di lapangan | : | - |
| Sifat Situs | : | - |
| Periode Situs | : | - |
| Kelompok Situs | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Aceh Tamiang |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Kelurahan | : | - |
| Alamat | : | Lorong Pintu Air Kampung Mesjid, Sungai Iyu, Kec. Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh 24472 |
| Latitude | : | 4.391714550053259 |
| Longitude | : | 98.17999229444216 |
| Ketinggian (mdpl) | : | - |
| Panjang | : | - |
| Lebar | : | - |
| Luas Tanah | : | - |
| Keutuhan | : | Utuh |
| Pemeliharaan | : | Terpelihara |
| Riwayat Pemugaran | : | Belum Pernah Dipugar |
| Riwayat Adaptasi | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | - |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Status kepemilikan | : | - |
| Nama pemilik | : | Negara |
| Status perolehan | : | - |
| Alamat | : | - |
| Latitude | : | - |
| Longitude | : | - |
| Status Pengelolaan | : | Dikelola BPCP Aceh |
| Batas Zona Utara | : | Kebun Sawit |
| Batas Zona Selatan | : | Kebun Sawit |
| Batas Zona Barat | : | Kebun Sawit |
| Batas Zona Timur | : | Kebun Sawit |
Situs
Nama Lainnya : Bukit Kerang
Kabupaten Aceh Tamiang memang selalu menyimpan banyak cerita Sejarah. Selain wisata baharinya, ternyata di Aceh Tamiang juga memiliki sejarah peninggalan manusia Purbakala yang kini sudah dijadikan objek wisata edukasi. Objek wisata ini berada di Desa Masjid, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang. Jarak dari pusat pemerintahan ke lokasi kurang lebih berjarak 23 kilometer, atau sekitar 50 menit perjalanan untuk tiba di Kecamatan Bendahara. Tapi tidak mudah untuk tiba di tempat itu. Selain lokasinya berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Situs sejarah ini diklaim sebagai situs terakhir yang masih utuh di Asia Tenggara. Bukit Kerang berdiri diatas lahan seluas 36 x 31 meter persegi. Ketinggian situs ini berbentuk gundukan setinggi 4,5 meter dengan luas kurang lebih 25 x 20 meter. Tempat ini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Sebagai sejarah peninggalan purbakala, tempat ini kerap dikunjungi para peneliti, mahasiswa dan juga arkeolog untuk melakukan riset dan penelitian. Lokasi Objek wisata ini memang tak seramai objek wisata lainnya, namun tidak sedikit wisatawan yang berkunjung kemari khususnya pelajar, mahasiswa, dan peneliti yang sekedar melihat langsung bagaimana bentuk peninggalan manusia purbakala ini. Belum lagi kondisi dari jalan raya menuju ke tumpukan kerang tersebut yang harus menyeberangi parit selebar kurang lebih tiga meter, dan hanya menggunakan balok kayu selebar kaki orang dewasa sebagai jembatannya. Keabsahan Bukit Kerang di Aceh Tamiang dikuatkan oleh Penelitian Banda Penelitian & Pengembangan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang beberapa tahun silam atau sekitar 7 Tahun lalu. Dari penelitian situs ini, tim peneliti memiliki bahan akurat untuk mengungkap sejarah peradaban manusia zaman dulu. Dari teori inilah kemudian, diyakini kalau kehidupan di Aceh Tamiang sudah dimulai 12 ribu tahun lalu. Secara menyeluruh, tim peneliti yang diketuai Prof Truman Simanjuntak ini menemukan enam situs bukit kerang (kjokken moddingger) di Aceh Tamiang. Keenam bukit ini ditemukan terpisah oleh 10 peneliti kala itu. Namun, sayangnya hanya satu situs yang masih dinyatakan utuh yakni di Kampung Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara.Sisanya sudah dalam kondisi rusak parah akibat dari modernisasi zaman. Menariknya, situs yang berada di Kampung Masjid Sungai Iyu ini dinyatakan utuh dan dipastikan satu-satunya situs yang tersisa di Asia Tenggara dan merupakan warisan Sejarah yang harus diperkenalkan ke seluruh negara. Bukit Kerang/bukit remis (gundukan kulit kerang/remis) ini dikelilingi persawahan. Bukit kerang (kjokkenmoddinger) merupakan peninggalan budaya mezolithik (jaman batu pertengahan) yang merupakan bagian dari babakan prasejarah. Situs ini berada pada era mesolitikum dan diduga berusia 6080 tahun..Situs ini merupakan gundukan sisa sampah manusia purba terutama kerang yang sudah menyerupai bukit. Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian) Penyelidikan di Bukit Kerang pertama kali dilakukan oleh Dr. P.V. van Stein Callenfels pada tahun 1925. Dalam penelitian tersebut, ditemukan kapak-kapak genggam yang ternyata berbeda dari kapak genggam zaman Paleolitikum (chopper). Kapak genggam zaman Mesolitikum dinamakan pebble atau Kapak Sumatera karena ditemukan di Sumatera. Kapak tersebut terbuat dari batu andesit yang dipecah atau dibelah. Sisi luarnya yang sudah halus dibiarkan begitu saja, sedangkan sisi dalamnya (tempat belah) dikerjakan lebih lanjut sesuai keperluannya. Dalam beberapa kali kegiatan penggalian dan penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan, ditemukan beberapa macam alat-alat batu, fragmen tulang manusia dan hewan, gigi hewan, gigi manusia, dan fragmen batuan.