| Tingkatan Data | : | Provinsi |
| Tahun pendataan | : | - |
| Tahun Verifikasi dan Validasi | : | - |
| Tahun penetapan | : | 1970-01-01 |
| Entitas kebudayaan | : | CB |
| Kategori | : | Situs |
| Nama ODCB/CB di lapangan | : | Komplek Makam Poteu Meureuhom Daya |
| Sifat Situs | : | Campuran |
| Periode Situs | : | - |
| Kelompok Situs | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | Kabupaten Aceh Jaya |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Kelurahan | : | - |
| Alamat | : | 38H7+MW8, Gp. Glee Jong, Jaya, Aceh Jaya, Sapek, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh 23656 |
| Latitude | : | 5.0748904678591105 |
| Longitude | : | 95.28434445390857 |
| Ketinggian (mdpl) | : | - |
| Panjang | : | - |
| Lebar | : | - |
| Luas Tanah | : | - |
| Keutuhan | : | Utuh |
| Pemeliharaan | : | Terpelihara |
| Riwayat Pemugaran | : | Belum Pernah Dipugar |
| Riwayat Adaptasi | : | - |
| Kabupaten/Kota | : | - |
| Kecamatan | : | - |
| Desa/Gampong | : | - |
| Status kepemilikan | : | - |
| Nama pemilik | : | Negara |
| Status perolehan | : | - |
| Alamat | : | - |
| Latitude | : | - |
| Longitude | : | - |
| Status Pengelolaan | : | BPCB Aceh |
| Batas Zona Utara | : | Laut Kuala Daya |
| Batas Zona Selatan | : | Laut Kuala Daya |
| Batas Zona Barat | : | Laut Kuala Daya |
| Batas Zona Timur | : | Perkampungan |
Situs
Nama Lainnya : Komplek Makam Poteu Meureuhom Daya
Sejarah mengenai makam Po Teumeureuhom Daya sangatlah panjang. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Sultan Salathin Alaidin Ri’yat Syah ini pernah menjadi raja di Kuta Madat, wilayah Negeri Pedir (Pidie saat ini). Proses kedatangannya ke Daya berawal ketika Raja Abdullah Malikul Mubin yang mengetahui Portugis mulai menanamkan kuku penjajahannya di bagian pantai barat Aceh (Daya), mereka khawatir akan keamanan aceh. Raja inilah yang merintis jalan ke Negeri Daya yang saat itu masih bernama Indra Jaya dan menaklukkan sebagian wilayahnya. Disebabkan usianya yang sudah sangat lanjut dan pikiran sang raja sangat dibutuhkan di pusat pemerintahan, maka Raja Abdullah Malikul Mubin meninggalkan Daya dan kembali ke Pidie. Sultan Salathin Alaidin Ri’yat Syah yang waktu itu berkedudukan di Kuta Mandat mendapat tugas untuk pergi ke Indra Jaya sebagai pemersatu raja-raja di Indra Jaya yang sudah saling bermusuhan akibat adu domba Portugis. Dengan pasukan yang berkekuatan 300 tentara, Sultan Salathin Alaidin Ri’yat Syah membuat sebuah perjalanan bersejarah melalui rimba belantara, mendaki gunung-gunung yang tinggi, dan menuruni tebing-tebing sampai akhirnya tiba di Daya dengan selamat bersama dengan para tentaranya. Sultan Alaidin Ri'ayat Syah, juga dikenal sebagai Poe Teumeureuhom, memainkan peran penting dalam sejarah kejayaan Negeri Daya, sebuah wilayah pesisir di Lamno, Aceh Jaya. Poe Teumeureuhom hadir di tengah masyarakat Negeri Daya saat itu sedang dalam penjajahan oleh Bangsa Portugis yang berambisi menguasai rempah-rempah dan kekayaan alam di wilayah tersebut. Poe Teumeureuhom, yang dikirim oleh Sultan Inayat Syah, memimpin 300 pasukan untuk mengalahkan Portugis pada abad ke-14. Kemenangan ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Negeri Daya, sebuah kerajaan yang makmur dan kuat dalam menerapkan ajaran Agama Islam di bawah kepemimpinan Poe Teumeureuhom. komplek makam Poteumeureuhom di Banda Aceh, meskipun sering dikaitkan dengan Kuta Alam, sebenarnya terletak di Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, dan juga ada yang merujuk ke Gampong Glee Jong, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Situs ini adalah makam para tokoh penting Aceh, termasuk Poteumeureuhom, pendiri Kerajaan Daya (sekarang dikenal sebagai Lamno) pada abad ke-15 Masehi, serta tokoh lain seperti Sultan Syamsu Syah. Beliau adalah raja pertama Kerajaan Daya dan dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana, yang membawa Aceh ke puncak kejayaannya. Ia memiliki peran besar dalam penyebaran syariat Islam dan adat Aceh. Makamnya juga terdapat di komplek ini, dengan batu nisan yang bertuliskan "Kubeu Poteumeureuhom". Terdapat juga nisan Sultan Ala'uddin Ri'ayat Syah yang berisikan kutipan ayat Al-Qur'an Surat Al-Hasyr, Ayat 22-24, yang menunjukkan hubungan keturunannya dengan Poteumeureuhom. Meskipun ada makam Poteumeureuhom di Banda Aceh (Ulee Kareng), situs yang lebih dikenal berada di atas bukit di Lamno, Aceh Jaya. Lokasi ini terletak di Gampong Glee Jong, Kecamatan Jaya, dan berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Banda Aceh. Pemandangan alam yang indah dan menenangkan, dengan pemandangan laut lepas. Terdapat 99 anak tangga yang harus dinaiki untuk mencapai makamnya. Menjadi situs cagar budaya nasional yang dilindungi dan dilestarikan oleh pemerintah. Tahan terhadap bencana alam tsunami 2004, sehingga dianggap sebagai tanda kemuliaan para ulama oleh masyarakat Aceh. Tempat ini sering dikunjungi masyarakat, terutama pada hari-hari tertentu untuk memperingati tradisi Seumelueng. Banyak peziarah yang datang ke situs ini untuk memohon doa dan berkah, di mana sebagian dari mereka percaya bahwa air dari area makam memiliki kebaikan. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus berupaya menjaga kelestarian dan kebersihan situs ini, serta melakukan rehabilitasi.