Loading

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : 2019-11-13
Tahun Verifikasi dan Validasi : 0001-09-01
Tahun penetapan : 2020-11-10
Entitas kebudayaan : CB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : Campuran
Periode Situs : 18 M
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Jl. Sultan Iskandar Muda, Gampong Sukaramai Kec. Baiturrahman
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 81 m2

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : Pemerintah Aceh

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Komplek Makam Pocut Meurah Pupok

Kompleks Makam Meurah Pupok berlokasi di dalam Kompleks Makam Kerkhof Peucut di Banda Aceh, yang dulunya merupakan tempat pemakaman tentara Belanda. Sejarahnya berawal dari tragisnya kehidupan Meurah Pupok, putra kesayangan Sultan Iskandar Muda, yang dihukum rajam oleh ayahnya karena berbuat zina. Hukuman ini membuktikan keadilan Sultan Iskandar Muda dalam menegakkan hukum, bahkan untuk anaknya sendiri, dan melegenda menjadi pepatah "Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita". Setelah pemakamannya, kompleks ini akhirnya menjadi tempat pemakaman bagi ribuan tentara Belanda yang tewas dalam Perang Aceh.  Meurah Pupok, yang memiliki panggilan "Pocut" atau "Peucut" yang berarti kesayangan, adalah putra mahkota yang sangat disayangi oleh Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum rajam oleh Sultan Iskandar Muda karena terbukti berbuat zina. Hukuman ini menjadi bukti keadilan Sultan Iskandar Muda yang tidak pandang bulu, bahkan terhadap anaknya sendiri, demi menegakkan hukum syariat dan adat Aceh. Tragedi ini melahirkan peribahasa Aceh yang terkenal: "Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita" yang artinya "Mati anak, tahu kuburannya, hilang adat, tidak tahu lagi di mana mencarinya".  Meurah Pupok dimakamkan secara terpisah dari makam raja-raja Aceh lainnya sebagai simbol hukuman dan pengasingan. Dulunya, pemakaman ini adalah area yang terpisah dengan makam-makam raja, yang kemudian menjadi tempat pemakaman Meurah Pupok. Setelah itu, kompleks ini beralih fungsi menjadi tempat pemakaman bagi ribuan tentara Belanda yang tewas selama Perang Aceh, sehingga disebut Kerkhof Peucut.  Nama "Peucut" tetap digunakan untuk merujuk pada Meurah Pupok, anak kesayangan sultan yang merupakan asal usul sejarah kompleks ini. Saat ini, Kompleks Makam Kerkhof Peucut telah menjadi cagar budaya dan salah satu objek wisata sejarah di Banda Aceh yang memuat jejak panjang perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme.