Loading

Tugu Teuku Umar / Tugu Kupiah Meukeutop

No. Reg. - Status Cagar Budaya

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Barat
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Gampong Ujong Kalak, kec johan pahlawan Meulaboh, Aceh Barat
Latitude : 4.146280326710744
Longitude : 96.12956555690195
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 19

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Tugu Teuku Umar / Tugu Kupiah Meukeutop

Monumen berbentuk kupiah meukutop ini dikenal dengan tugu teuku umar dibangun sebagai tugu peringatan lokasi tertembaknya Teuku Umar saat pertempuran dengan Belanda yang dipimpin oleh Van Der Dussen. Teuku umar tertembak pada tanggal 11 Februari 1899 di Gampong Ujong Kalak Meulaboh, Aceh Barat tepat dilokasi tugu tersebut didirikan. Teuku Umar lahir di Meulaboh, pada tahun 1854. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kemauan keras dan pantang menyerah. Pada usia muda, ia sudah diangkat menjadi kepala kampung. Kakek Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati. Saat terjadi Perang Aceh pada 1873, Umar masih berusia 19 tahun. Kendati masih cukup belia. ia turut dalam peperangan itu bersama pejuang pejuang Tanah Rencong lainnya. Pada 1880, beliau melamar Cut Nyak Dien. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dien mendampingi suaminya bertempur melawan Belanda. Dikalangan belanda, teuku umar dikenal dengan taktik tipu dayanya yang cukup banyak merugikan pihak belanda, Belanda ingin segera menghabisi teuku umar dengan berbagai cara, berbagai informan dikirim ke setiap penjuru termasuk dari pihak aceh sendiri yang bermental korup. Atas informasi yang diberikan seorang aceh bernama teuku leubeh, belanda mengetahui rencana perang pasukan teuku umar, malam 10 Februari 1899, Letnan J.J. Verbrugh menempatkan detasemen marsosenya di bawah pohon-pohon dipantai Meulaboh. Detasemen marsose yang sudah kewalahan memburu teuku umar selama 6 bulan lamanya kedalam rimba belantara berkubang rawa-rawa dipesisir barat Aceh kini saatnya bagi mereka untuk mengakhirinya dengan memasang jebakan terhadap teuku umar hingga gugurnya teuku umar pahlawan nasional. Tugu ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai saksi bisu atas kegigihan perjuangan Teuku Umar dalam mempertahankan tanah Aceh dari penjajahan. Saat ini, area tugu telah dikembangkan menjadi objek wisata sejarah, yang juga dikenal sebagai Desa Wisata Tugu Kupiah Meukeutop Teuku Umar, dan menjadi salah satu spot foto menarik bagi pengunjung yang ingin menapak tilas jejak pahlawan Aceh. Tugu ini merupakan salah satu ikon budaya dan sejarah yang melekat erat dengan masyarakat Aceh, khususnya di wilayah Meulaboh.