Loading

Makam Datuk Raja Diwa (Syech Moulana Ibrahim)

No. Reg. - Status Cagar Budaya

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 2020-01-01
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Situs : -
Periode Situs : -
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Tenggara
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : CRPG+Q4Q, Gp. Mbarung Baru, Awe Alas, Aceh Tenggara, Kuta Cingkam II, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh 24671
Latitude : 3.435072235494014
Longitude : 97.83238586318704
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 50x40 m

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Pemda Agara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Datuk Raja Diwa (Syech Moulana Ibrahim)

Makam Datuk Raja Dewa (Syekh Maulana Ibrahim) merupakan situs sejarah penting yang terletak di Desa Kuta Cingkam II, Kecamatan Lawe Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu ulama perintis yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam, khususnya di daerah tersebut. Datuk Raja Dewa (Syekh Maulana Ibrahim) diyakini sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di daerah Desa Batu Mbulan dan sekitarnya di Aceh Tenggara. Peranannya sangat signifikan dalam proses Islamisasi suku Alas di wilayah tersebut. Meskipun terdapat beberapa tokoh bernama Syekh Maulana Ibrahim di berbagai daerah (seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa), Datuk Raja Dewa merujuk pada sosok ulama lokal yang makamnya berada di Aceh. Makamnya menjadi objek cagar budaya dan sering diziarahi sebagai bentuk penghormatan terhadap jasanya dalam membawa dan mengembangkan Islam di wilayah pedalaman Aceh. Situs ini menjadi saksi bisu masuknya pengaruh Islam yang kemudian membentuk adat dan budaya lokal suku Alas. Secara ringkas, sejarah makam ini terkait erat dengan peran Datuk Raja Dewa sebagai pelopor penyebaran Islam di kalangan masyarakat lokal Aceh Tenggara, menjadikannya situs yang bernilai sejarah dan religi penting di daerah tersebut.