Loading

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : 2023-12-12
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2023-12-12
Tahun penetapan : 2023-12-12
Entitas kebudayaan : CB
Kategori : Situs

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Makam Sultan Iskandar Muda
Sifat Situs : Campuran
Periode Situs : 1978 M
Kelompok Situs : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : G8WC+W8F, Gp. Peuniti, Baiturrahman, Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 2311
Latitude : 5.548153363928581
Longitude : 95.32714711909681
Ketinggian (mdpl) : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Luas Tanah : 60 m²

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Negara
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : Pemerintah Aceh

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : -
Batas Zona Selatan : -
Batas Zona Barat : -
Batas Zona Timur : -

Deskripsi Singkat

Situs

Nama Lainnya : Makam Sultan Iskandar Muda

Makam Sultan Iskandar Muda terletak di komplek pemakaman kuno di Gampong (desa) Pande, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Tempat peristirahatan terakhir Sultan Iskandar Muda ini berada tidak jauh dari lokasi Masjid Raya Baiturrahman. Sultan Iskandar Muda adalah sosok pemimpin yang visioner dan berhasil membawa Aceh mencapai puncak kejayaannya, yaitu pada abad ke-17. Kompleks makam Sultan Iskandar Muda menjadi pengingat akan sejarah yang kaya dan penting bagi masyarakat Aceh. Sultan Iskandar Muda adalah penguasa Kesultanan Aceh yang memerintah dari tahun 1607 hingga 1636, membawa Aceh ke puncak kejayaannya sebagai kerajaan maritim terkuat di nusantara, pusat perdagangan internasional, dan pusat pembelajaran Islam. Ia dikenal karena ekspansinya yang luas, kemampuannya dalam mengendalikan perdagangan rempah-rempah, dan perlawanannya terhadap monopoli Portugis di Selat Malaka. Awal Kehidupan dan Latar Belakang Nama asli: Perkasa Alam. Kelahiran: Diperkirakan sekitar tahun 1590 atau 1593 di Banda Aceh. Keturunan: Berasal dari Dinasti Meukuta Alam, garis keturunan langsung dari Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh. Pendidikan: Dibesarkan di lingkungan istana, ia mendapatkan pendidikan agama dan kepemimpinan, serta belajar dari ulama-ulama ternama. Masa Pemerintahan dan Kejayaan Pemerintahan: Memerintah Kesultanan Aceh dari tahun 1607 hingga kematiannya pada tahun 1636. Ekspansi wilayah: Di bawah kepemimpinannya, Aceh mencapai puncak kejayaannya dan menguasai wilayah terluas, termasuk mengendalikan Selat Malaka. Perdagangan: Mengembangkan Aceh sebagai pusat perdagangan internasional, yang sangat kuat berkat komoditas rempah-rempah, seperti lada. Ia juga menjalin hubungan dagang dengan pedagang Eropa, seperti Inggris. Perlawanan terhadap Portugis: Secara aktif menentang upaya monopoli perdagangan rempah-rempah oleh Portugis dan berhasil memperluas kekuasaan Aceh untuk melawan mereka. Pusat Keilmuan: Menjadikan Aceh sebagai pusat pembelajaran Islam yang penting di nusantara, menarik para cendekiawan terkemuka dari berbagai penjuru. Hubungan internasional: Menjalin hubungan diplomatik, seperti mengirimkan hadiah kepada Raja Inggris James I. Akhir Pemerintahan dan Warisan Kematian: Meninggal pada 27 Desember 1636. Kemunduran Aceh: Kematiannya menandai akhir dari Dinasti Meukuta Alam. Kemunduran Aceh kemudian terjadi karena kekalahan militer, agresivitas Belanda, dan tidak munculnya pemimpin yang setara. Warisan: Nama dan jasanya diabadikan dalam berbagai nama institusi dan infrastruktur modern di Aceh, seperti Universitas Iskandar Muda dan Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Mud