Loading

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : 2021
Tahun penetapan : 2021
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Benda

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : -
Sifat Produk : -
Periode Produk : -
Kelompok Produk : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : Jl. Sultan Mahmudsyah No.10, Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23116
Latitude : 5.549071348003981
Longitude : 95.32782062006318
Ketinggian (mdpl) : -

Data Fisik

Bahan : -
Satuan waktu pembuatan : -
Periode waktu pembuatan : -
Waktu Pembuatan : -
Tanda yang Dimiliki : -
Warna : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Tinggi : -
Tebal : -
Berat : -
Volume : -
Diameter Atas : -
Diameter Badan : -
Diameter Kaki : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : Museum Aceh
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Deskripsi Singkat

Benda

Nama Lainnya : Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya adalah hadiah persahabatan dari Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok kepada Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1414 Masehi. Lonceng ini kemudian menjadi bagian dari kapal perang Sultan Iskandar Muda, dan setelah sempat dirampas Portugis, dikembalikan ke Aceh. Lonceng ini kemudian berubah fungsi menjadi alat azan, penanda waktu berbuka puasa, dan alat pengumuman sebelum akhirnya dipindahkan ke Museum Aceh pada tahun 1915.  Lonceng Cakra Donya memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam, serta Dinasti Ming di Tiongkok. Awalnya merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho, lonceng ini kemudian beralih fungsi dan kepemilikan seiring perubahan kekuasaan di Aceh. Saat ini, lonceng ini menjadi salah satu koleksi bersejarah utama di Museum Aceh dan ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Walikota Banda Aceh Nomor 613 Tahun 2021 Tanggal 29 Nov 2021. Lonceng berbentuk stupa ini dibuat di Tiongkok pada tahun 1409. Terbuat dari besi, lonceng ini memiliki ukiran huruf Tionghoa (Hanzi) dan Arab, meskipun sebagian tulisan Hanzi sudah tidak terbaca jelas. Lonceng ini diberikan oleh Laksamana Cheng Ho, utusan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, sebagai hadiah persahabatan kepada Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1414. Lonceng ini melambangkan hubungan diplomatik yang baik antara Tiongkok dan Samudera Pasai.  Perpindahan ke Kesultanan Aceh: Pada tahun 1520, Kesultanan Aceh Darussalam menaklukkan Samudera Pasai. Sultan Ali Mughayat Syah kemudian membawa lonceng tersebut ke ibu kota Aceh, Kutaraja (sekarang Banda Aceh) disimpan di kompleks Istana Darud Dunia.  Kapal perang Sultan Iskandar Muda: Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607–1636), lonceng ini ditempatkan di kapal perang andalannya yang juga bernama Cakra Donya. Lonceng ini berfungsi sebagai pemberi aba-aba bagi armada Aceh. Armada Portugis bahkan menjuluki kapal ini sebagai Espanto the Mundo, yang berarti "teror dunia".  Perpindahan ke Museum Aceh Perampasan dan pengembalian: Kapal Cakra Donya sempat dirampas oleh Portugis, tetapi loncengnya berhasil direbut kembali oleh Kesultanan Aceh. Penurunan oleh Belanda: Pada tahun 1915, lonceng dipindahkan oleh Gubernur Militer Belanda, H.N.A. Swart, ke halaman Museum Aceh yang baru. Menurut cerita rakyat, penurunan lonceng ini dilakukan karena dahan pohon tempatnya digantung di keraton sudah rapuh, dan juga karena lonceng tidak lagi berfungsi, Saat ini lonceng tersebut masih menjadi salah satu koleksi utama di halaman Museum Aceh di Banda Aceh. Peristiwa banjir: Pemindahan ini sempat memicu ketakutan masyarakat Aceh, yang percaya lonceng itu memiliki kekuatan magis. Setelah terjadi banjir besar, masyarakat meminta Belanda untuk menempatkan lonceng tersebut dengan layak.