Loading

Masjid Poteumeureuhom (Masjid Labui)

No. Reg. CB.6060.19700101.00713 Status Cagar Budaya

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : CB
Kategori : Bangunan

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Masjid Poteumeureuhom (Masjid Labui)
Sifat Bangunan : Campuran
Periode Bangunan : -
Gaya Arsitektur Bangunan : Lainnya
Fungsi Bangunan : -
Bentuk Atap Bangunan : Lainnya

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Pidie
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Fisik

Bahan Bangunan : -
Satuan waktu pembuatan : Tahun
Periode waktu pembuatan : Sesudah Masehi
Waktu Pembuatan : -
Ornamen Bangunan : -
Tanda Bangunan : -
Warna Bangunan : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Tinggi : -
Luas Bangunan : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : -
Nama pemilik : -
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : Persawahan
Batas Zona Selatan : Kebun
Batas Zona Barat : Wakaf
Batas Zona Timur : Kebun

Deskripsi Singkat

Bangunan

Nama Lainnya : Masjid Poteumeureuhom (Masjid Labui)

Mesjid Poteumeureuhom atau disebut juga Mesjid Raya Labui berada di Jalan Lingkar Keuniree, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. Lokasi dari masjid ini kurang lebih berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Sigli yang bisa ditempuh dengan perjalanan selama 10 menit. Masjid Raya Labui dibangun pada tahun 1612, bermula dengan kedatangan Sultan Iskandar Muda yang kemudian memprakarsai pembangunan mesjid ini serta dibantu dengan masyarakat setempat. Mesjid ini memiliki keindahan keindahan arsitektur yang cukup menawan, bisa dilihat dari kubah besar yang berwarna biru muda diatas masjid hingga pilar-pilar penyangga bangunan masjid yang sangat indah. Ciri uniknya lainnya juga ada mimbar dan tongkat Po Teumeureuhom. Dalam sejarah pembangunannya juga melibatkan arsitek dari Cina. Ialah yang mendesai mimbar dengan ukiran yang indah yang bertahan ratusan hinggi kini. Tongkat ini memiliki panjang sekitar 1,2 meter memiliki berat 5 kilogram, serta beruas-ruas seperti layaknya tebu. Tongkat ini berwarna keemasan ini sesungguhnya berfungsi sebagai penyangga untuk khatib ketika khotbah di mimbar. Namun, konon tongkat ini kini sudah menjadi sebuah replika. Kabarnya, tongkat ini memiliki 2 replika, yang satunya dimasukkan kedalam sumur yang bisa dijumpai pengunjung dihalaman Masjid Raya Labui, dan satu lagi digunakan khatib. Sementara itu, tongkat yang asli kini hanya dipajang dilemari kaca dekat mimbar mesjid. Penabalan Po Teumeuruhom ini sendiri sebagai nama masjid merujuk pada sosok Sultan Iskandar Muda, sebagai bentuk penghormatan atas warisannya atas pembangunan masjid ini. Mesjid Po Teumeuruhom Labui ini ditetepkan sebagai cagar budaya melalui No SK menteri Kebudayaan dan Pariwisata bernomor : PM.90/PW.007/MKP/2011, Tanggal 17 Oktober 2011. Bentuk arsitektur masjid ini berdenah bujursangkar, dengan atap atap bertumpang tiga, dan 4 buah tiang utama. Saat ini atap dibuat dari seng. Dahulu dari daun rumbia. Pada halaman masjid terdapat dua buah sumur dan bak penampung air. Di temukan pula sisa struktur dinding mengelilingi masjid yang terbuat dari susunan batu karang yang direkat dengan spesi campuran tanah liat, pasir dan kapur. Di duga dinding benteng ini cukup tinggi, ketebalan yang dapat diukur dari sisa yang ada adalah 2,4 m.