Loading

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : 07/10/2011
Entitas kebudayaan : CB
Kategori : Bangunan

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Masjid Pulo Kambing
Sifat Bangunan : Campuran
Periode Bangunan : -
Gaya Arsitektur Bangunan : Lainnya
Fungsi Bangunan : -
Bentuk Atap Bangunan : Lainnya

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Selatan
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Fisik

Bahan Bangunan : -
Satuan waktu pembuatan : Tahun
Periode waktu pembuatan : Sesudah Masehi
Waktu Pembuatan : -
Ornamen Bangunan : -
Tanda Bangunan : -
Warna Bangunan : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Tinggi : -
Luas Bangunan : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : -
Nama pemilik : Masyarakat Pulo Kambing
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : Rumah Penduduk
Batas Zona Selatan : SDN Kluet Utara
Batas Zona Barat : Rumah Penduduk
Batas Zona Timur : Jalan Desa

Deskripsi Singkat

Bangunan

Nama Lainnya : Masjid Pulo Kambing

Masjid Masjid Tuo Kambing ini terletak di Desa Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Dibangun tahun 1932 pada masa teuku Kejruen Kluet, dengan imam pertamanya adalah Tengku Ali Basyah. Masjid Tuo Pulo Kambing terdaftar sebagai Cagar Budaya di Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan dengan nomor penetapan PM.90/PW.007/MKP/2011 tanggal 17 Oct 2011. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Hal ini bisa dilihat dari sebuah kubah khas yang ditempatkan pada puncak atapnya. Pada bagian dasar masjid ini juga memiliki arsitektur yang sangat khas seperti masjid-masjid tua lainnya di Indonesia. Terutama pada bagian atap yang berbentuk limas bersusun tiga. Tetapi, di bagian atap paling atas masjid ini memiliki bentuk yang sedikit berbeda. Masjid ini dibangun dengan 3 lantai. Pada bagian pondasinya dibangun dengan sangat kokoh, dindingnya terbuat dari kayu, dan pada bagian besi yang digunakan merupakan besi yang masih asli sejak masjid ini pertama kali dibangun. Masjid ini memiliki empat soko guru seperti masjid-masjid tradisional Indonesia lain pada umumnya. Keempatnya memiliki diameter kurang lebih satu meter dengan ketinggian kurang lebih 15 meter, soko guru ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang menceritakan berbagai kisah-kisah sejarah kerajaan Islam Aceh Masjid ini memiliki ruang utama 13.50 m x 14.40 m terdapat 4 tiang soko guru dan 12 tiang penyangga berbentuk segi delapan. Bangunan dominan berkonstruksi kayu berdenah bujur sangkar dengan atap limasan bersusun tiga dengan atap tumpang tiga. Dinding terdiri dari papan kasar (tak diketam) dengan lebar 35 cm dan tiag kozen 10 x 10 cm. Terdapat 3 buah jendela pada sisi utara dan selatan masjid sedangkan pada sisi barat dan timur terdapat 2 jendela.