Loading

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : ODCB
Kategori : Struktur

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Tugu Proklamasi
Sifat Struktur : Campuran
Periode Struktur : Prasejarah
Fungsi Struktur : -

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : 8

Data Fisik

Bahan Struktur : -
Satuan waktu pembuatan : -
Periode waktu pembuatan : -
Waktu Pembuatan : -
Ornamen Struktur : -
Tanda Struktur : -
Warna Struktur : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : 5 m
Lebar : 3 m
Tinggi : 8 m
Luas Struktur : -
Luas Tanah : -
Diameter Atas : 0 cm
Diameter Badan : 0 cm
Diameter Kaki : 0 cm

Kondisi Terkini

Keutuhan : Tinggal Sebagian
Pemeliharaan : Tidak Terpelihara
Riwayat Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Riwayat Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : -
Nama pemilik : Negara
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : Jalan
Batas Zona Selatan : Jalan
Batas Zona Barat : Jalan
Batas Zona Timur : Jalan

Deskripsi Singkat

Struktur

Nama Lainnya : Tugu Proklamasi

Monumen/Tugu peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Monument ini terletak di Taman Sari Banda Aceh. Dibangun pada tahun 1950 dalam rangka memperingati/mengenang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tugu Proklamasi di Taman Sari (kini bernama Taman Bustanussalatin) Banda Aceh memiliki peran penting sebagai penanda lokasi pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh pada masa itu.  Taman Sari, yang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh pada abad ke-17, menjadi lokasi di mana proklamasi kemerdekaan RI untuk wilayah Aceh dibacakan. Proklamasi tersebut dibacakan langsung oleh Teungku Nyak Arif, seorang tokoh pejuang dan gubernur pertama Aceh. Tugu ini didirikan di tengah taman untuk menandai dan mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut, menjadikannya situs cagar budaya Aceh yang bernilai histori tinggi. Pada tahun 2004, gempa bumi dan gelombang tsunami dahsyat melanda Banda Aceh dan menghancurkan hampir semua bangunan di area taman, kecuali Tugu Proklamasi dan menara air peninggalan Belanda yang tetap berdiri kokoh. Hal ini sering dianggap sebagai simbol ketahanan. Setelah tsunami, taman ini dipugar dan kini dikenal sebagai Taman Bustanussalatin. Taman ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tempat rekreasi, dan tempat penyelenggaraan acara publik, dengan tugu tersebut tetap menjadi pusat sejarahnya.  Jadi, tugu tersebut bukan hanya monumen biasa, melainkan penanda fisik dari momen krusial masuknya Aceh ke dalam Republik Indonesia yang baru merdeka.