Loading

Masjid Kebayakan No. Inv. MSJ/0005/TB/A/2010

No. Reg. CB.6060.19700101.00705 Status Cagar Budaya

Informasi Cagar Budaya

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : -
Tahun Verifikasi dan Validasi : -
Tahun penetapan : -
Entitas kebudayaan : CB
Kategori : Bangunan

Data Benda

Nama ODCB/CB di lapangan : Masjid Kebayakan No. Inv. MSJ/0005/TB/A/2010
Sifat Bangunan : Campuran
Periode Bangunan : -
Gaya Arsitektur Bangunan : Lainnya
Fungsi Bangunan : -
Bentuk Atap Bangunan : Lainnya

Lokasi Penemuan

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Tengah
Kecamatan : -
Desa/Kelurahan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -
Ketinggian (mdpl) : -

Data Fisik

Bahan Bangunan : -
Satuan waktu pembuatan : Tahun
Periode waktu pembuatan : Sesudah Masehi
Waktu Pembuatan : -
Ornamen Bangunan : -
Tanda Bangunan : -
Warna Bangunan : -
Hiasan : -

Data Dimensi

Panjang : -
Lebar : -
Tinggi : -
Luas Bangunan : -
Luas Tanah : -

Kondisi Terkini

Keutuhan : Utuh
Pemeliharaan : Terpelihara
Pemugaran : Belum Pernah Dipugar
Adaptasi : -

Data Kepemilikan

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Status kepemilikan : -
Nama pemilik : Masyarakat
Status perolehan : -
Alamat : -
Latitude : -
Longitude : -

Data Pengelolaan

Status Pengelolaan : -

Batas Zonasi

Batas Zona Utara : Rumah penduduk
Batas Zona Selatan : Rumah penduduk
Batas Zona Barat : Sawah
Batas Zona Timur : Jalan aspal

Deskripsi Singkat

Bangunan

Nama Lainnya : Masjid Kebayakan No. Inv. MSJ/0005/TB/A/2010

Sejarah Ringkas Masjid Raya Kebayakan merupakan masjid tertua di Takengon dan menjadi pusat penyebaran Islam di Tanah Gayo. Menurut catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat Gayo, Masjid ini dibangun Masjid ini dibangun antara tahun 1901 hingga 1920 melalui gotong royong masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, masjid ini mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan, terutama setelah masa kemerdekaan Indonesia, namun bentuk dasar dan tapaknya tetap dipertahankan. Peran dalam Sejarah Sosial dan Keagamaan 1. Pusat dakwah Islam di Gayo Dari sinilah para ulama Gayo menyebarkan ajaran Islam ke berbagai daerah di dataran tinggi, seperti Pegasing, Lut Tawar, dan Bener Meriah. 2. Pusat pendidikan tradisional Di sekitar masjid pernah berdiri dayah (pesantren tradisional) tempat masyarakat belajar ilmu agama, bahasa Arab, dan adat Gayo. 3. Simbol persatuan masyarakat Gayo Masjid Kebayakan menjadi tempat musyawarah penting, baik pada masa penjajahan Belanda maupun setelah kemerdekaan. 4. Perlawanan terhadap kolonial Pada masa penjajahan Belanda, masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Gayo untuk mengatur strategi, terutama dalam Perang Gayo (1904–1905) saat pasukan Belanda mulai masuk ke dataran tinggi. Arsitektur Gaya bangunannya mencerminkan perpaduan arsitektur tradisional Gayo dan Islam klasik Aceh. Dulu atapnya berbentuk tumpang tiga dari ijuk dan kayu, melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Kini sebagian besar struktur sudah diperkuat dengan beton, namun tetap menjaga unsur estetika lama — termasuk menara kecil dan hiasan ukiran Gayo pada bagian mimbar serta dinding. Pemugaran dan Status Terkini Masjid ini beberapa kali direhabilitasi, Tahun 1950-an, pasca perang kemerdekaan. Tahun 1980-an, oleh pemerintah Aceh Tengah dan terakhir tahun 2010-an, dengan tetap mempertahankan nilai sejarahnya. Kini, Masjid Kebayakan berfungsi aktif sebagai masjid raya kecamatan dan menjadi cagar budaya daerah.